PANDANGAN ISLAM TENTANG KEMANDIRIAN DAN PENTINGNYA KEMANDIRIAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM


PANDANGAN ISLAM TENTANG KEMANDIRIAN DAN PENTINGNYA KEMANDIRIAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM, SKRIPSI KEMANDIRIAN ANAK, SKRIPSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM, SKRIPSI KEMANDIRIAN, KARYA TULIS KEMANDIRIAN, 


Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan pendidikan dan pembimbingan. Dan dikatakan sebagai lingkungan yang utama, karena sebagian besar dari kehidupan anak berada dalam lingkungan keluarga. Sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dari keluarga terutama pendidikan agama.
Samsul Nizar mengatakan: ”Bahwa keluarga (lingkungan rumah tangga), pada umumnya merupakan lembaga pertama dan utama dikenal anak. Hal ini disebabkan, karena kedua orang tua merupakan orang yang pertama dikenal dan diterimanya pendidikan. bimbingan, perhatian dan kasih sayang yang terjalin antara kedua orang tua dengan anak-anaknya, merupakan basis yang ampuh bagi pertumbuhan dan perkembangan psikis serta nilai-nilai sosial dan relegius pada diri anak didik”.[1]
Zakiah Djarajat mengatakan:” Pada umumnya  pendidikan dalam dalam rumah tangga bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan ini terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik  antara orang tua dan anak didik”.[2]
Tidak diragukan, keluarga memiliki dampak yang besar dalam pembentukan prilaku individu serta pembangunan vitalitas dan ketenangan dalam benak anak-anak. Melalui keluarga, anak-anak mendapatkan bahasa, nilai-nilai serta kecenderungan mereka. Keluarga menyumbang secara langsung pada pembangunan peradaban umat manusia dan hubungan asosiatif diantara orang-orang. Ia membawa anak-anak untuk belajar prinsip-prinsip sosiologi serta kaidah etika dan moralitas.[3]
Dalam keluarga anak mendapatkan rangsangan, hambatan atau pengaruh yang pertama dalam pertumbuhan dan perkembangannya, baik itu perkembangan biologis maupun perkembangan kepribadiannya. Dalam keluarga pula anak mengenal dan mempelajari norma-norma dan aturan-aturan permainan dalam hidup bermasyarakat.
Agama seorang anak pada umumnya akan ditentukan oleh pendidikan, latihan dan pengalaman yang diperolehnya pada masa kecilnya. Oleh karena itu seorang anak yang pada masa kecilnya tidak pernah mendapatkan pendidikan agama, maka pada masa dewasanya nanti tidak akan merasa pentingnya arti agama dalam hidupnya.
Lembaga pendidikan keluarga memberikan pengalaman pertama yang merupakan faktor penting dalam perkembangan pribadi anak. Para ahli ilmu jiwa sangat menekankan pentingnya penghidupan keluarga, sebab pengalaman masa anak-anak yang menyakitkan meskipun sudah jauh terpendam dimasa silam, tetap dapat mengganggu keseimbangan jiwa didalam perkembangan individu selanjutnya. Melalui kehidupan keluarga, aspek emosional, moral, sosial anak dan kebutuhan akan rasa kasih sayang dapat dipenuhi atau berkembang dengan baik, hal ini disebabkan karena adanya hubungan darah antara pendidik dan anak didik.
Menurut para sosiolog dan pakar pendidikan menegaskan bahwa keluarga memainkan peranan terbesar dalam proses pendidikan dan pembentukan kepribadian. Peran signifikan ini menjadi semakin nyata ketika kita mempertimbangkan prinsip-prinsip biologi yang menegaskan bahwa semakin muda usia manusia semakin meningkat ketaatan kepada orang tua.[4]
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa keluarga tidak hanya sebagai persekutuan hidup antara orang tua dan anak, tetapi juga tempat anak memperoleh pendidikan terutama pendidikan agama. Karena kunci pendidikan dalam keluarga sebenarnya terletak pada pendidikan agama, sebagi pembentuk pandangan hidup seseorang. Jadi pendidikan agama sangat penting ditanamkan kepada anak-anak sejak dini dalam keluarga sehingga menjadi anak yang berprilaku shaleh.
Dengan demikian, tidak dapat diragukan lagi bahwa pendidikan agama dalam keluarga merupakan landasan dalam membentuk kemandirian anak. Keluarga mempunyai kewajiban mengajarkan pendidikan agama sejak dini sehingga anak-anak tumbuh dalam kesadaran agama yang kuat sehingga tidak akan mudah terjerumus ke dalam perilaku negatif. Anak yang sudah mendapatkan bekal pendidikan akan mampu beradaptasi dengan lingkungannya, di saat harus menunaikan kewajiban maka akan segera dilakukan atas dasar kesadaran. Baik buruknya seorang anak setidaknya pengaruh dari pendidikan keluarga yang kurang memadai. Anak akan menuruti semua pendidikan yang diajarkan baik secara langsung maupun tidak langsung di dalam keluarganya. Jika dalam sebuah keluarga tidak pernah mengajarkan kemandirian, semua diatur oleh orang tua, maka seorang anak akan manja di lingkungan berbeda. Anak sudah terbiasa disuruh maka akan lupa mengerjakan kewajibannya. Dalam hal agama, akan berhubungan dengan ibadah dan kedekatan diri kepada Allah. Orang tua mengajarkan anak waktu shalat lima waktu, puasa dan hal-hal lain. Saat anak sadar bahwa itu adalah kewajibannya maka anak akan melakukan secara mandiri di lain waktu tanpa perlu ditegur lagi oleh orang tuanya.

DOWNLOAD JUGA RPP KURIKULUM 2013 DAN SILABUS KURIKULUM 2013
SKI
PKN




[1]Samsul Nizar, Pengantar Dasar-dasar Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosda karya, 2001), h. 125.
[2]Zakiah Djarajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Angkasa, 1996), h. 35.               

[3]Samsul Nizar, Pengantar…., h. 46.

[4]Samsul Nizar, Pengantar…., h. 51.

Postingan populer dari blog ini

RPP Akidah Akhlak MTs Kurikulum 2013 Kelas VIII Lengkap dan Rapi

RPP Akidah Akhlak MTs Kurikulum 2013 Kelas VII

RPP DAN SILABUS SKI MTs VII LENGKAP SIAP PAKAI