PENGERTIAN PEMUTIH KULIT WAJAH DAN PENGGOLONGAN PEMUTIH KULIT WAJAH DAN PEMILIHAN PEMUTIH KULIT WAJAH


PENGERTIAN PEMUTIH KULIT WAJAH DAN PENGGOLONGAN PEMUTIH KULIT WAJAH DAN PEMILIHAN PEMUTIH KULIT WAJAH,  


Pemutih kulit atau sering dikenal dengan kosmetik berasal dari bahasa Yunani ‘Kosmestikos” yang mempunyai arti keterampilan mengatur dan menghias. Sedangkan menurut Peraturan Badan Kepala Pengawas Obat dan Makanan RI. No. HK.00.05.42.1018 mengatakan bahwa setiap bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada seluruh bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital bagian luar), atau gigi dan membran mukosa di sekitar mulut terutama untuk membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan dan atau memperbaiki bau badan dan atau melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik. (Badan POM, 2008).
Sedangkan menurut Rieger (2000) mengemukakan bahwa pemutih kulit wajah merupakan suatu bahan yang digunakan untuk mencerahan atau merubah warna kulit yang tidak diinginkan. Beberapa pemutih wajah mengandung pigmen putih untuk menutupi kulit dan para pemakai merasa kulitnya menjadi lebih putih, namun sebenarnya kulit mereka hanya terlihat putih saja akibat efek pelapisan pigmen putih pada lapisan terluar kulit dan tidak ada pengurangan pada kadar pigmen kulit yang sebenarnya. Setiap produk yang mengandung bahan aktif yang dapat menekan atau menghambat melamin yang sudah terbentuk sehingga akan memberikan warna kulit yang lebih putih dan memberikan efek samping terhadap kulit baik positif maupun negatif.
Dengan demikian jelaskan bahwa setiap bahan yang digunakan sebagai pembersih, pewangi dan mengubah penambilan menjadi lebih menarik atau kulit wajah terlihat lebih putih dapat dikatakan sebagai pemutih kulit wajah. Setiap produk yang mengandung bahan aktif yang terlibat langsung dalam memutihkan wajah dan memberikan efek yang sangat berarti pada kulit wajah juga dikatakan sebagai pemutih wajah.
Berbagai cara dilakukan untuk melakukan pemutihan kulit wajah, dan berbagai produk juga digunakan agar keinginan tersebut tercapai. Namun pada hakikatnya, konsumen melupakan bahan-bahan yang terkandung dalam pemutih kulit wajah. Bahan-bahan tersebut terlibat langsung dalam memenuhi keinginan konsumen agar kulit wajah terlihat lebih putih dan memukau.
Menurut  Yasmin (2008) pada dasarnya, sebagian besar pemutih kulit wajah bekerja dengan menghambat pembentukan melamin melalui jalur inhibisi pada enzim tironase dan bahkan ada yang bersifat toksik terhadap melamin. Kulit wajah yang lebih putih dan hilangnya bintik-bintik hitam, bisa diperlihatkan dalam waktu 6 bulan setelah penggunaan. Efek samping dari penggunaan pemutih kulit, bisa berupa kulit kemerahan dan iritasi, rasa gatal dan terbakar, pengelupasan kulit dan merangsang terjadinya kanker kulit.
Faktor-faktor yang menyebabkan efek samping tersebut terjadi karena bahan-bahan yang digunakan terkadang tidak sesuai dengan sensitifitas kulit seseorang. Penggunaan bahan pemutih kulit wajah ada beragam jenis bahan tingkat efektifitas yang berbeda-beda. Untuk membedakan bahan-bahan aktif yang terkadung dalam pemutih kulit wajah, dapat dibedakan sebagai berikut:
Hidroquinon
Menurut Counter (2003) Hidroquinon atau lebih dikenal dengan HQ, terdapat dalam berbagai pemutih kulit wajah yang sering dijumpai saat ini. Bahan ini lazim digunakan karena berbagai pertimbangan, di antaranya sebagai salah satu penghambat yang paling efektif terhadap melanogenesis invito dan invivo. HQ dipercaya dapat menyebabkan hambatan reversible metabolisme seluler dengan mempengaruhi sintesis DNA dan RNA. Efek sitotoksis HQ tidak berbatas pada melanosit, tetapi menghambat metabolisme seluler sel non-melanosit dengan dosis yang lebih tinggi, sehingga HQ dapat dipertimbangkan sebagai agen sitotoksik melanosit poten dengan sitotoksik melanosit spesifik yang relatifi tinggi.
Badan POM (2007) mengatakan bahwa bahan ini termasuk golongan obat keras yang hanya dapat digunakan berdasarkan resep dokter. Hidroquinon yang banyak dipakai sebagai penghambat pembentukan melamin yang dapat menyebabkan hiperpigmentasi, padahal melamin berfungsi sebagai pelindung kulit dari sinar ultraviolet, sehingga terhindar dari resiko sinar matahari secara langsung, hidroquinon dapat mengakibatkan noda hitam dan benjolan kekuningan pada kulit yang disebut sebagai okrosinosis yang sifatnya permanen sebagai akibat terhambatnya produksi melanin kulit yang berfungsi melindungi kulit dari sinar ultraviolet. Oleh karena itu Badan POM menetapkan ambang batas kandungan hidroquinon di bawah 2%.
Dengan demikian, tercatat bahwa bahan ini dianggap berbahaya jika digunakan terlalu banyak dalam pemutih kulit wajah. Efek samping yang ditimbulkan bisa menyebabkan iritasi, kulit terasa lembam dan lainnya. Pada sebagian orang yang kulit mereka sangat sensitif akan merasakan dampak langsung dari efek samping ini.
Senada dengan itu, Yasmin (2008) mengemukakan bahwa bahaya pemakaian obat keras ini tanpa pengawasan dokter dapat menyebabkan iritasi kulit, kulit menjadi merah dan rasa terbakar juga dapat menyebabkan kelainan pada ginjal (Nephropaty), kanker darah (Leukimia) dan kanker sel hati (Hepaoceluller adenoma).
Monobenzyl Ether HQ
Menurut James (2009), Monobenzyl Ether Hidroquinon (MBEH) sama dengan HQ yang termasuk agen kimia golongan fenol atau ketakol. MBEH hampir selalu menyebabkan depigmentasi ireversibel kulit. Sisa MBEH telah ditemukan dalam desinfektan, germisida, baki hidangan dari karet, selotif dan apron karet. Dalam dermatologi seharusnya dipakai untuk menghilangkan daerah yang tersisa selain kulit normal pada pasien untuk vitiligo umum dan sukar disembuhkan. Mekanisme yang diduga terjadi pada pigmentasi oleh MBEH adalah dengan penghancuran melanosit selektif melalui pembentukan radikal bebas dan penghambatan kompetitif system enzim tirosinase.
Merkuri
Menurut Arief (2007), Merkuri (Hg)/air raksa termasuk logam berat berbahaya yang dalam konsentrasi dapat bersifa racun. Pemakaian merkuri (Hg) dalam krim pemutih dapat menimbulkan berbagai hal, mulai dari perubahan warna kulit yang akhirnya dapat menyebabkan bintik-bintik hitam pada kulit, alergi, iritasi kulit, serta pada pemakaian dengan dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan permanen pada susunan saraf otak, ginjal, dan gangguan perkembangan janin bahkan paparan jangka pendek dalam dosis tinggi dapat menyebabkan muntah-muntah, diare dan kerusakan ginjal, serta merupakan zat karsinogenik (menyebabkan kanker) pada manusia.
Arbutin
Arbutin berasal dari ekstrak tanaman bearberry, yang dulu sering digunakan oleh bangsa Jepang. Jika dibandingkan dengan hidroquinon, maka daya pemutih arbutin tidak sekuat hidrokuinon. Produk yang mengandung arbutin dapat dijual secara bebas tanpa resep dokter. Selain bearberry, arbutin juga ditemukan pada tanaman gandum dan kulit buah pear. Bahan ini berfungsi sebagai pemutih kulit wajah (skin lightening) yang bekerja dengan cara menghambat pembentukan melanin dalam kulit yaitu dengan menghambat aktivitas tirosin. Karena arbutin tidak menghidrolisa HQ bebas, agen selanjutnya tidak bertanggung jawab terhadap efek inhibitor arbutin pada melanogenesis. Penghambatan sintesis melanin (kira-kira 39%) terjadi pada konsentrasi 5x10.
Asam azelaik
James (2009) mengatakan bahwa secara alami asam azelaik didapat dari saturasi pityrosporum ovale, asam azelaik mempunyai efek antiproliferatif dan sitotoksik terhadap melanosit. Efek selanjutnya terjadi karena penghambatan yang agak kuat dari retioreduksin reduktase, enzim yang terlibat dalam aktivasi oksireduktase mitokondria dan sintesi DNA. Walaupun asam azelaik pada awalnya digunakan untuk pengobatan akne, ternyata juga berhasil pada pengobatan lentiginosis, rosasea dan hiperpigmentasi paska inflamasi. Selain berfungsi sebagai antibakteri, keratolitik, komedogenik dan anti inflamasi. Asam azelaik juga mampu mengurangi pigmentasi pada kulit terutama bagi mereka yang berkulit gelap dan bekas jerawat warna coklat atau untuk kasus melasma. Asam azelaik 20% dilaporkan mempunyai efektivitas yang sama dengan HQ 4% dalam mengatasi kulit gelap tersebut. Efek samping dari bahan ini berupa iritasi kulit, rasa gatal, dan terbakar hingga pengelupasan kulit.
Asam kojik
Menurut James (2009), sebelum digunakan sebagai pemutih kulit, asam kojik telah banyak digunakan sebagai bahan tambahan pada makanan yang digunakan untuk menjaga kualitas warna makanan. Asam kojik marupakan metabolit jamur yang biasa dihasilkan oleh spesies jamur aspergillus, acetobacter, dan penicillium. Asam kojik menghambat aktivitas katekolase tirosin, yang dibatasi enzim esensial dalam biosintesis pigmen kulit melanin. Melanosit yang diobati dengan asam kojik menjadi nondendritik, dengan penurunan jumlah melanin. Kemudian asam kojik mencari oksigen reaktif yang dilepaskan secara berlebihan dari sel atau yang dihasilkan dalam jaringan atau darah. Biasanya konsentrasi asam kojik yang digunakan sebagai kosmetik berkisar antara 1-4%. Kelebihan asam kojik dibandingkan bahan pemutih lainnya adalah kestabilannya dalam suatu produk kosmetik. Akan tetapi dari hasil penelitian asam kojik lebih mengiritasi dibandingkan HQ sehingga 5 mol/L. selain bekerja dengan menghambat tirosin, arbutin juga bekerja dengan mengelupas kulit epidermis (eksfoliasi). Beberapa pabrik melaporkan arbutin sebagai obat depigmentasi yang efektif pada konsentrasi 1%.
Licorice ekstract
James (2009) mengemukakan bahwa glabiridin (glicyrrhia glabra) merupakan kandungan utama dari ekstract licorice yang mampu memutihkan kulit. Cara kerjanya yaitu menghambat melanogenesis (pembentukan pigmen kulit) dan juga mencegah terjadinya proses inflamasi di kulit. Beberapa riset menunjukkan bahwa penggunaan glabiridin 0,5% secara topical dapat menghambat sinar UV-B yang dapat memicu terbentuknya pigmentasi dan kemerahan pada kulit.
Asam Ellagik
Menurut James (2009), Asam Ellagik ditemukan pada rapsberry, strawberry, dan pomegranate. Berdasarkan suatu hasil riset laboratorium menyatakan asam ellagik dapat memperlambat pertumbuhan tumor-tumor tertentu. Walaupun hasil riset ini sangat menjanjikan, namun sampai saat ini belum ada bukti secara medis bahwa bahan ini mampu mencegah dan mengobati kanker pada manusia. Selain diduga mampu melawan kanker, asam ellagik juga berguna sebagai pemutih kulit. Pada tahun 1996 di Jepang, Asam Ellagik disetujui sebagai bahan aktif yang mampu mencegah terbentuknya spots dan freckles setelah luka bakar karena paparan sinar matahari.
Selain itu juga terdapat beberapa bahan yang tidak diizinkan untuk digunakan pada pemutih kulit wajah. Bahan-bahan tersebut adalah:
1.      Arsen dan senyawanya.
2.      Barium dan senyawanya.
3.      Hidroquinon Mono Benzil eter.
4.      Perak dan senyawanya.
5.      Air raksa (Merkuri) dan senyawanya, dan Tiomersal yang digunakan sebagai pengawet dalam sediaan tata rias.
6.      Selenium dan senyawanya, kecuali selenium disulfida maksimum 2% dalam sampo.
7.      Salisil Anilida berhalogen.
8.      Timbal dan senyawanya, kecuali timbal asetat maksimum 2% dalam cat rambut.

PENGGOLONGAN PEMUTIH KULIT WAJAH
Pemutih kulit wajah yang sering sekali digunakan ternyata mempunyai beberapa kriteria atau kelompok. Dalam penggunaannya mempunyai fungsi masing-masing dan mempunyai efek tersendiri. Pemutih kulit wajah yang satu dengan yang lainnya terkadang mempunyai satu kesatuan untuk saling membantu dan mendukung guna tercipta hasil yang maksimal. Pemutih kulit wajah ini nantinya akan memberikan kesan tersendiri pada penggunanya.
Berdasarkan kegunaannya pemutih kulit wajah dapat dibedakan sebagai berikut: 
1.      Skin Bleaching
Skin Bleaching merupakan produk pemutih yang mengandung bahan aktif yang kuat, yang berfungsi memudarkan noda-noda hitam pada kulit. Cara penggunaannya adalah dengan mengoleskan pada daerah kulit dengan noda hitam, tidak digunakan secara merata pada kulit dan tidak digunakan pada siang hari. Bahan aktif yang digunakan antara lain hidroquinon dan kombinasi hidroquinon dengan asam retinoat.
2.      Skin Lightening
Skin Lightening merupakan produk perawatan kulit yang digunakan dengan tujuan agar kulit pemakai tampak lebih putih, cerah dan bercahaya. Produk ini dapat digunakan secara merata pada seluruh permukaan kulit. Bahan aktif yang digunakan antara lain asam askorbat dan derivatnya, Kojik Acid, Niasinamid, Licorice ekstract.

PEMILIHAN PEMUTIH KULIT WAJAH
Sebagian orang memang tidak bisa dipisahkan dari penggunaan pemutih kulit wajah. Hal ini dilakukan untuk membuat penampilan menjadi lebih menarik. Namun pada sebagian orang lainnya penggunaan pemutih kulit wajah terllau berlebihan sehingga tidak memperhatikan efek yang akan ditimbulkan setelah penggunaanya. Untuk menghindari efek samping yang berlebihan, BPOM RI (2007) menganjurkan sebaiknya memperhatikan beberapa hal berikut ini sebelum melakukan pembelian pemutih kulit wajah:
a.       Kenali jenis kulit
Setiap orang memiliki jenis kulit yang berbeda, oleh karena itu penting untuk mengetahui jenis kulit sebelum memutuskan untuk membeli pemutih kulit yang cocok. Untuk memastikan jenis kulit seseorang, kulit harus dibersihkan lebih dahulu dan pemeriksaan harus dilakukan di bawah cahaya yang terang bila perlu menggunakan kaca pembesar agar tekstur kulit, besarnya pori-pori, aliran darah, pigmentasi, dan kelainan lain yang terdapat pada permukaan kulit dapat terlihat. Analisis kulit sangat penting dilakukan untuk menentukan kelainan atau masalah kulit yang timbul sehingga perlakukan yang tepat dapat diberikan untuk memperbaikinya.
b.      Produk bernomor registrasi dari Depkes.
Hal ini perlu dilakukan karena setiap produk yang memiliki nomor registrasi dari Depkes, dipastikan sudah melalui tahap penyeleksian dan pemeriksaan kelayakan pakai terhadap produk tersebut. Suatu produk yang tidak memiliki nomor regristrasi, kemungkinan memiliki kandungan zat-zat yang tidak diizinkan pemakaiannya atau memiliki kadar yang melebihi ketentuan, sehingga dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya. Hal yang perlu diperhatikan tersebut adalah berkaitan dengan kandungan Hidroquinon dan Merkuri yang terdapat pada produk pemutih kulit wajah.
c.       Produk Instan
Terkadang sebagian orang tergiur dengan produk instan atau dengan produk yang memberikan hasil yang sangat cepat (misalnya produk pemutih). Hal ini tidak menutup kemungkinan produk tersebut mengandung zat yang melebihi kadar atau standar yang sudah ditetapkan oleh Depkes dan penggunaannya harus di bawah pengawasan pihak yang berwenang.
d.      Membeli sesuai kebutuhan  
Penggunaan produk pemutih kulit wajah pada tahap pertama sebaiknya tidak terlalu berlebihan. Sebaiknya pembelian dilakukan bertahap, lihat hasil yang diberikan oleh suatu produk sebelum mengunakan secara berkelanjutan. Kecocokan penggunaan pemutih kulit wajah sangat bergantung pada jenis kulit konsumen. Jika kulit tidak bisa menerima atau tidak cocok akan menimbulkan efek samping misalnya iritasi dan lain sebagainya.
e.       Keterangan pada label atau kemasan.
Hal ini sangat diperlukan karena untuk meminimalkan efek samping dari produk yang akan dipakai. Sebelum memutuskan membeli konsumen berhak memperhatikan mengenai unsur bahan yang digunakan, tanggal kadaluarsa serta nomor registrasinya, karena tidak semua produsen mencantumkan atau mendaftarkan produknya ke BPOM, sehingga tidak terjamin keamanannya bagi konsumen. Sikap kehati-hatian dari konsumen ini sangat diperlukan mengingat banyak pemutih kulit wajah yang beredar di pasaran saat ini.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGGUNAAN PEMUTIH WAJAH
Kebutuhan
Tidak bisa dipungkiri bahwa pemutih kulit wajah sudah hampir menjadi kebutuhan primer. Hampir semua orang ingin terlihat putih dan cantik kapan saja.  Hal ini menyebabkan individu yang ingin berubah memiliki kebutuhan pokok untuk mendapatkan hasil yang ingin dicapai.
Selain itu, perbedaan warna kulit dan kultur menjadikan setiap warga negara berbeda dengan yang lainnya. Orang yang berkulit putih ingin terlihat makin putih atau bahkan ingin terlihat kecoklatan demikian juga sebaliknya. Perbedaan ini pula yang menjadi pemutih kulit wajah sebagai pilihan untuk tampil lebih menawan.
Kurangnya pengetahuan akan bahaya penggunaan pemutih kulit wajah yang berlebihan dan ketidahtahuan bahan-bahan yang digunakan sebagai pembuat pemutih kulit wajah ini, menjadikan pemutih kulit wajah masih sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi.
Lingkungan
Dalam hal ini, setiap individu bisa berubah begitu saja karena pengaruh lingkungannya. Lingkungan sangat membawa pengaruh besar seseorang menggunakan pemutih kulit wajah atau tidak. Lingkungan yang mengharuskan seseorang tampil menawan setiap saat seperti sudah mewajibkan penggunaan pemutih wajah ini. Sedangkan lingkungan yang berbeda dari itu tidak menjadikan penampilan sebagai hal nomor satu.
Penggunaan pemutih kulit wajah di lingkungan tertentu akan sangat berpengaruh pada kedudukan seseorang dalam lingkungannya. Bahkan seperti ada kesan yang mengatakan bahwa tercipta kelompok-kelompok sendiri dalam hal ini. Kelompok yang terbiasa menggunakan pemutih kulit wajah akan berdiri sendiri, sedangkan yang lainnya juga akan demikian. Jika ingin masuk ke salah satu kelompok harus ikut peraturan yang ada. Otomatis yang terpengaruh dengan kelompok pertama akan mengikuti gaya hidup lingkungan tersebut dalam menggunakan pemutih kulit wajah atau yang lain dalam memperindah penampilan mereka.
Media
Media sangat berpengaruh terhadap penggunaan pemutih kulit wajah. Media juga yang menghadirkan iklan-iklan menarik peminat untuk membeli dan menggunakan pemutih wajah tertentu agar terlihat makin putih atau awet muda. Media tersebut baik cetak maupun elektronik turut serta menghadirkan pengaruh besar dalam penggunaan pemutih kulit wajah masa kini.
Terdapat dua media yang ada saat ini, yaitu media cetak dan media elektronik. Media cetak adalah media statis dan mengutamakan pesan-pesan visual yang dihasilkan dari proses percetakan, bahan baku dasarnya maupun sarana penyampaian pesannya menggunakan kertas. Di antara media cetak tersebut adalah: surat kabar, majalah, tabloid, brosur, pamflet, poster. Sedangkan media elektronik adalah media yang proses bekerjanya berdasar pada prinsip elektronik dan eletromagnetis, misalnya:  televisi, radio, internet.
Dengan adanya media yang ada, hadirlah berbagai macam bentuk iklan dari berbagai produk pemutih kulit wajah dengan berbagai daya tarik. Bahkan untuk menghadirkan kesan nyata, beberapa artis dijadikan brand ambassador untuk berbagai produk kecantikan demi menarik peminat. Pencitraan yang hadir inilah yang akan menimbulkan daya tarik bagi konsumen untuk segera menggunakan produk yang sudah direkomendasikan oleh idola mereka tersebut. Hal ini membuat berbagai produk berlomba-lomba mendapatkan simpati konsumen untuk mendapat keuntungan yang besar.

REAKSI NEGATIF PEMUTIH WAJAH KULIT
Menurut Tranggono (2007) terdapat beberapa jenis reaksi negatif/kerugian akibat menggunakan pemutih kulit wajah, baik pada kulit maupun pada sistem tubuh lainnya. Efek negatif tersebut antara lain:
Iritasi
Permasalahan ini berhubungan langsung dengan konsumen yang menggunakan pemutih kulit wajah. Iritasi merupakan efek langsung dialami oleh konsumen karena kulit tidak bisa menerima bahan-bahan aktif yang terdapat dalam pemutih kulit wajah. Sejumlah pemutih kulit wajah berdampak langsung dapat menimbulakn iritasi sehingga sudah sewajarnya memahami jenis kulit sebelum memutuskan menggunakan pemutih kulit wajah.
Alergi
Bahan yang bersifat alergenik dapat menimbulkan elergi pada sebagian orang setelah menggunakan pemutih kulit wajah berbahan seperti ini. Walaupun pada sebagian orang lainnya, tidak mengalami alergi namun patut diperhatikan karena alergi terhadap pemutih kulit wajah ini bisa berlangsung selama bertahun-tahun jika tidak berkonsultasi dengan dokter. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan saran dari dokter pemutih kulit wajah yang cocok untuk digunakan.
Fotosensitisasi
Bahan yang bersifat photosensitizer seperti zat pewarna dan zat pewangi akan berdampak langsung setelah terkena sinar matahari. Penggunaan bahan ini sangat berhubungan dengan sensitifitas seorang pemakai jika terkena sinar matahari. Reaksi yang ditimbulkan akan langsung terasa setelah menggunakan pemutih kulit wajah berbahan ini jika sudah berjalan atau beraktivitas di bawah sinar matahari.
Jerawat
Ada sebagian pemutih kulit wajah yang dapat menimbulkan jerawat seperti pada beberapa pelembab kulit berminyak yang diperuntukkan pada kulit kering di iklim dingin dapat menimbulkan jerawat bila digunakan pada kulit berminyak. Hal ini karena pemutih kulit wajah tersebut hanya dapat digunakan untuk iklim dingin saja bukan pada iklim tropis seperti Indonesia.
Intoksikasi
Bahan pemutih kulit wajah yang bersifat toksik dapat menyebabkan keracunan apabila tercium arome menyengat baik melalui mulut maupun hidung atau lewat penyerapan melalui kulit. Keracunan ini bisa dialami oleh siapa saja yang tidak sanggup mencium aroma yang ditimbulkan oleh pemutih kulit wajah bersifat toksik ini.

DOWNLOAD JUGA RPP KURIKULUM 2013 DAN SILABUS KURIKULUM 2013
SKI
PKN

Postingan populer dari blog ini

RPP Akidah Akhlak MTs Kurikulum 2013 Kelas VIII Lengkap dan Rapi

RPP Akidah Akhlak MTs Kurikulum 2013 Kelas VII

RPP DAN SILABUS SKI MTs VII LENGKAP SIAP PAKAI