PENGERTIAN DAN MENGENAL KELAPA SAWIT ALAMI


PENGERTIAN DAN MENGENAL KELAPA SAWIT ALAMI, SKRIPSI TENTANG KELAPA SAWIT, MAKALAH TENTANG KELAPA SAWIT, BAHAN KULIAH KELAPA SAWIT, KELAPA SAWIT UNTUK MINYAK, KELAPA SAWIT MAHAL, HARGA KELAPA SAWIT, CARA MENANAM KELAPA SAWIT, PUPUK YANG COCOK UNTUK KELAPA SAWIT, PENGOLAHAN KELAPA SAWIT, PEMELIHARAAN KELAPA SAWIT, PEMANFAATAN HASIL PANEN KELAPA SAWIT,

Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. (Pardamea, 2008).

Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman yang hidup di negara-negara beriklim tropis. Indonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis yang penanaman kelapa sawit cukup berkembang pesat. Sehingga kelapa sawit menjadi salah satu komoditas yang menghasilkan devisi negara terbesar setelah karet dan kopi. Hal ini menandakan bahwa kelapa sawit cukup mempunyai prospek yang cerah di masa mendatang.

Datangnya kelapa sawit ke Indonesia tidak terlepas dari peran seorang kebangsaan Belgia, Adrien Hallet. Pada tahun 1911 mengkomersialkan kelapa sawit di kawasan Hindia Belanda. Beliau kemudian mendirikan perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123 ha. Pusat pemuliaan dan penangkaran kemudian didirikan di Marihat (terkenal sebagai AVROS), Sumatera Utara dan di Rantau Panjang, Kuala Selangor, Malaysia pada 1911-1912. Di Malaysia, perkebunan pertama dibuka pada tahun 1917 di Ladang Tenmaran, Kuala Selangor menggunakan benih dura Deli dari Rantau Panjang. (Sastrosayono, 2003).

Kelapa sawit salah satu tanaman ketinggiannya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi. Daun kelapa sawit tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa. Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar. (Sukarno, 2009).

Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Kelapa swait akan berbuah jika sudah mencapai umur 18 bulan setelah masa tanam, tetapi kadar minyaknya masih sedikit dan persentase limbah (lumpur) banyak. Buah yang dihasilkan bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Dari buah inilah dihasilkan minyak yang siap dipanen. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Perkembang biakan Kelapa sawit dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula). (Sastrosayono, 2003).

PENANAMAN KELAPA SAWIT

Penanaman kelapa sawit di lapangan sangat penting, penanaman ini akan menentukan produksi dan kelangsungan hidup kelapa sawit. Penanaman dilakukan setelah bibit mencapai usia 12 bulan. (Sastrosayono, 2003).

Pembuatan Lubang Tanam

Lubang tanam dibuat tebal di lokasi yang sudah dipasang ajir. Pembuatan lubang dilakukan dua atau tiga bulan sebelum kelapa sawit ditanam. Tujuannya agar semua gas beracun hasil metabolisme mikroba menguap atau terbawa angin. Selain itu, jamur dan bakteri penyebab penyakit tanaman akan mati terkena cahaya panas matahari. Lubang tanaman berukuran 40x40x40 cm. Semakin besar lubang semakin baik, tetapi biaya pembuatan lubang semakin besar.

Pemupukan Dasar

Pemupukan dasar mutlak dilakukan pada kebun-kebun yang akan ditanami kelapa sawit. Pupuk dasar berupa fosfat alam, bukan fosfat buatan pabrik. Hal ini untuk menghindari akar tanaman muda yang peka berhubungan dengan bahan-bahan kimia hasil peruraian fosfat pabrik. Jenis pupuk fosfat alam ialah batuan fosfat yang berwarna putih dan CIRP (Chrest Island Rock Fosfat yang berwarna merah bata). Dosis pupuk dasar yang dipakai sebesar 1 kg setiap lubang. Pupuk dasar diaplikasikan setelah lubang tanam dibuat atau bersamaan dengan kegiatan menanam.

PENANAMAN

Penanaman dilakukan pada setiap bulan Oktober dan sudah harus selesai pada akhir bulan Februari. Pada bulan Oktober hujan sudah mulai turun sehingga tanaman tidak kekurangan air. Sedangkan pada bulan Februari hujan masih turun dan diharapkan tanaman masih bisa berkembang dengan baik.

Tanaman kelapa sawit yang mati atau pertumbuhannya tidak normal harus disulam. Penyulaman ini dilakukan segera mungkin supaya pertumbuhan tanaman tersebut tidak ketinggalan dari tanaman kelapa sawit lainnya. Penyulaman perlu dilakukan supaya populasi tanaman tetap 142 pohon per hektar sehingga tidak mempengaruhi hasil produksi.

PEMELIHARAAN KELAPA SAWIT

Pemeliharaan kelapa sawit setelah proses tanam dilakukan untuk menjaga kestabilan dan kebagusan bibit agar tumbuh subur. Pemeliharaan ini dibagi dalam dua tahap, yaitu tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM). Pada tahap TBM merupakan masa pemeliharaan yang banyak memerlukan tenaga dan biaya, karena pada dasarnya merupakan penyempurnaan dari pembukaan lahan dan persiapan tanaman, selain itu pada masa ini sangat menentukan keberhasilan pada tahap TM. Pada tahap pemeliharaan tanaman TBM yang harus diperhatikan adalah: konsolidasi, pemeliharaan jalan, benteng, teras, parit dan lain-lain, penyulaman, pengendalian gulma, pemupukan, pemeliharaan tanaman penutup tanah, kastrasi/ablasi, penyerbukan (polinasi), pengendalian hama dan penyakit.

Sedangkan pemeliharaan kelapa sawit pada TM pada dasarnya hampir sama dengan pemeliharaan TBM. Kegiatan pada TM meliputi pemeliharaan jalan, teras tanggul, pemangkasan pelepah daun, konsolidasi dan inventarisasi, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit serta pemupukan.

PENGOLAHAN KELAPA SAWIT  PEMANENAN Pada saat buah sudah mulai masak, kandungan minyak dalam daging meningkat cepat. Hal ini disebabkan adanya proses konversi karbohidrat menjadi lemak dalam buah. Setelah kadar minyak dalam buar mencapai maksimal buah akan terlepas dari tandasnya. Dengan demikian, proses pemanenan dapat segera dilakukan. Kelapa sawit berbuah setelah berumur 2,5 tahun dan buahnya masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Kelapa sawit dapat dipanen jika tanaman berumur 31 bulan, sedikitnya 60 % buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Satu tandan beratnya berkisar 10 kg lebih. (Pardamea, 2008).

Tandan matang dipanen semuanya dengan kriteria 25-75% buah luar memberondol atau kurang matang dengan 12,5-25% buah luar memberondol.

Potong pelepah daun yang menyangga buah.

Tandan dipotong.

Bertanda di bekas potongan dengan nama atau tanggal panen.

Tumpuk pelepah daun yang dipotong secara teratur di gawangan dengan cara ditelungkupkan.

Pemanenan kelapa sawit dilakukan 5 hari dalam seminggu, 2 hari untuk pemeliharaan alat. Tingkat produksi dipengaruhi kualitas tanaman, kesuburan tanah, keadaan iklim, umur tanaman, pemeliharaan tanaman dan serangan hama penyakit. Contoh kapasitas produksi kelapa sawit adalah:

Umur tanaman 4 tahun hasil minyak: 500 kg/ha, hasil inti: 100 kg/ha.

Umur tanaman 6 tahun hasil minyak: 1000 kg/ha, hasil inti: 200 kg/ha.

Umur tanaman 8 tahun hasil minyak: 1600 kg/ha, hasil inti: 320 kg/ha.

Umur tanaman 10 tahun hasil minyak:2000 kg/ha, hasil inti: 400 kg/ha

Umur tanaman 12 tahun hasil minyak:2250 kg/ha, hasil inti:450 kg/ha.

Pengolahan Hasil Panen

Produk utama yang diharapkan hasilnya dalam hasil panen kelapa sawit merupakan minyaknya. Pengolahan kelapa sawit menjadi minyak melalui proses yang sangat panjang dan rumit. Peralatan prosesingnya membutuhkan investasi yang sangat mahal. Sehingga industri kelapa sawit hanya dapat dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar. (Sukarno, 2009).

Untuk melakukan pengolahan kelapa sawit menjadi minyak dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:

Sterilisasi

Buah kelapa sawit yang sudah dituangkan ke dalam keranjang baja harus disterilkan terlebih dahulu. Caranya, delapan keranjang baja yang berisi buah dimasukkan ke dalam ketel, lalu ditutup rapat dengan tekanan 2 atm dan diberi uap panas selama 90 menit.

Melepaskan buah dari tandannya

Buah dilepas dari tandannya menggunakan mesin pelepas buah. Mesin pelepas buah berupa tromel yang memiliki garis tengah 180 cm dan panjang 3-4 meter. Dinding tromel terbuat dari besi bulat yang pemasangannya tidak terlalu rapat. Jarak antara satu besi bulat dengan besi bulat lainnya sekitar 5 cm. Setelah tromel diisi dengan buah yang sudah disterilisasi, tromel diputar lambat. Tandan buah akan ikut berputar dan buah akan berjatuhan di antara sela-sela besi bulat. Proses ini berlangsung berulang kali sampai semua buah terlepas dari tandannya.

Membuat buah menjadi bubur

Buah yang sudah dipisah dari tandan dimasukkan ke dalam mesin digestor. Bentuk mesi ini berupa ketel yang berdinding dua lapis. Setiap dinding dipisahkan oleh suatu ruang. Ruang antara dua dinding (R) diberi uap panas bertekanan 3 atm. Uap panas ini berfungsi untuk memanaskan buah yang ada di ruang dalam tromel sehingga minyak yang dikandungnya mudah keluar. Di tromel bagian dalam (B) terdapat sebuah sumbu (S) yang dilengkapi dengan enam buah baling-baling (P). Sumbu dan baling-baling berputar dengan kecepatan 30 kali putaran per menit. Buah-buah yang sebelumnya dimasukkan ke dalam ketel B akan terkena putaran baling-baling dan lama-kelamaan buah akan menjadi bubur homogen yang dalamnya masih terdapat biji-biji sawit.
MEMERAS
Bubur buah kelapa sawit dimasukkan ke dalam mesin pemeras. Dengan alat ini minyak yang berada di tengah-tengah bubur akan ditekan keluar.

Memisahkan biji

Mesin yang digunakan untuk memisahkan biji terdiri dari ketel yang panjang dan dipasang horizontal. Dinding ketel berlubang-lubang dengan diameter lebih kecil dari diameter biji. Ampas dari sisa pemerasan dimasukkan dalam ketel, lalu ketel diputar pada sumbunya dengan kecepatan 15 putaran per menit. Dengan putaran ini, ampas dari sisa pemerasan dilemparkan ke dinding dan keluar melalui lubang-lubang, sehingga yang tertinggal hanya biji-biji. Biji-biji tersebut dikeluarkan dari ketel.

Mengeringkan biji

Biji-biji yang sudah bebas dari serabut dikeringkan di dalam silo agar biji betul-betul bebas dari serabut dan karnelnya betul-betul lepas dari cangkangnya. Melalui proses ini diharapkan proses selanjutnya, cangkang dipecah tetapi kernelnya tidak ikut pecah. Proses pengeringan dilakukan dua kali. Pertama dilakukan pada proses sterilisasi buah, kedua setelah biji dipisahkan dari serabutnya.

Menjernihkan dan memurnikan buah

Cairan minyak yang keluar dari mesin pemeras, keadaannya masih belum murni karena masih bercampur dengan air dan kotoran lainnya. Untuk memurnikannya, perlu dilakukan tahap klarifikasi dilakukan dengan dua tahap, yaitu : tahap pertama minyak yang masih kotor dimasukkan ke dalam “tangki klarifikasi”. Dalam tangki ini, minyak yang masih kotor diaduk menggunakan uap air panas yang diembuskan ke dalamnya selama setengah jam. Sebagian uap air yang diembuskan ke tengah cairan minyak akan mengembun sehingga kadar airnya naik sampai 50%. Cairan minyak dibiarkan tenang dan suhu tetap dipertahankan pada 900C dengan cara mengalirkan uap air dalam pipa yang berada di ujung kerucut. Cairan minyak tersebut akan memisah menjadi tiga bagian, lapisan bawah berupa kotoran, lapisan tengah berupa air dan lapisan paling atas berupa minyak.

Tahap kedua air dan kotoran dialirkan ke dalam “tangki klarifikasi” kedua yang dipasang di bawah “tangki klarifikasi” pertama. Di dalam tangki ini cairan akan mengalami proses seperti pada klarifikasi tahap pertama. Minyak yang masih dapat diambil dialirkan ke bak penampung minyak. Dalam bak penampung, minyak masih mengandung air sebanyak 0,5-1% dan kotoran sekitar 0,1-0,22%. Selama dalam bak penampung, sebagian air yang ada dalam minyak terus menguap.

PEMANFAATAN HASIL PANEN

Setelah melalui proses pengolahan yang sangat panjang dan rumit, pemanfaatan hasil olahan dirasakan oleh hampir semua elemen masyarakat. Pemanfaatan dan kegunaan hasil olahan kelapa sawit dapat diperhatikan pada tabel di bawah ini:

Tabel 2.1. Pemanfaatan Hasil Olahan Kelapa Sawit

Pemanfaatan

Keterangan


Industri makanan

Mentega, shortening, coklat, additive, es cream, pakan ternak, minyak goreng.


Produk obat–obatan dan kosmetik

Krim, shampoo, lotion, pomade, vitamin


Industri berat dan ringan

Industri kulit (untuk membuat kulit halus dan lentur dan tahan terhadap tekanan tinggi atau temperatur tinggi), cold rolling and fluxing agent pada industri perak, dan juga sebagai bahan pemisah dari material cobalt dan tembaga di industri logam.


Industri kimia

Bahan kimia yang digunakan untuk detergen, sabun, dan minyak. Sisa - sisa dari industri minyak sawit, dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler, bahan semir furniture, bahan anggur.


Selain minyaknya, ampas tandan kelapa sawit merupakan sumber pupuk kalium dan berpotensi untuk diproses menjadi pupuk organik melalui fermentasi (pengomposan) aerob dengan penambahan mikroba alami yang akan memperkaya pupuk yang dihasilkan. Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) mencapai 23% dari jumlah pemanfaatan limbah kelapa sawit tersebut sebagai alternatif pupuk organik sehingga memberikan manfaat lain dari sisi ekonomi. Bagi perkebunan kelapa sawit, dapat menghemat penggunaan pupuk sintetis sampai dengan 50%. Ada beberapa alternatif pemanfaatan TKKS yang dapat dilakukan, yaitu sebagai pupuk kompos, merupakan bahan organik yang telah mengalami proses fermentasi atau dekomposisi yang dilakukan oleh mikroorganisme. Kompos TKKS memiliki beberapa sifat yang menguntungkan antara lain:

Memperbaiki struktur tanah berlempung menjadi ringan.

Membantu kelarutan unsur-unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman.

Bersifat homogen dan mengurangi risiko sebagai pembawa hama tanaman.

Merupakan pupuk yang tidak mudah tercuci oleh air yang meresap dalam tanah.

Dapat diaplikasikan pada sembarang musim.

Selain sebagai pupuk kompos TKKS juga sebagai pupuk kalium karena abu tandan tersebut memiliki kandungan 30 - 40% K2O, 7% P2O5, 9% CaO, dan 3% MgO. Selain itu juga mengandung unsur hara mikro yaitu 1.200 ppm Fe, 1.000 ppm Mn, 400 ppm Zn, dan 100 ppm Cu. Fungsi lain TKKS juga sebagi bahan serat untuk bahan pengisi jok mobil dan matras, polipot, dll. (Wikipedia, 2012).

DOWNLOAD JUGA RPP KURIKULUM 2013 DAN SILABUS KURIKULUM 2013
FIKIH
QURAN HADITS
SEJARAH
BAHASA INDONESIA
BAHASA INGGRIS
BAHASA ARAB
SKI
FISIKA
KIMIA
BIOLOGI
MATEMATIKA
SOSIOLOGI
GEOGRAFI
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)
EKONOMI
PKN
IPA TERPADU
IPS TERPADU
SENI BUDAYA

Postingan populer dari blog ini

RPP Akidah Akhlak MTs Kurikulum 2013 Kelas VIII Lengkap dan Rapi

RPP Akidah Akhlak MTs Kurikulum 2013 Kelas VII

RPP DAN SILABUS SKI MTs VII LENGKAP SIAP PAKAI