TANTANGAN DALAM MEMBANGUN KELUARGA SAKINAH DAN KLASIFIKASI RUMAH TANGGA SAKINAH


TANTANGAN DALAM MEMBANGUN KELUARGA SAKINAH DAN KLASIFIKASI RUMAH TANGGA SAKINAH, PERAN SUAMI ISTRI DALAM MEMBANGUN KELUARGA SAKINAH, PEMAHAMAN DAN KONSEP KELUARGA SAKINAH DALAM ISLAM, SKRIPSI KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WARAHMAH, SKRIPSI STAI, SKRIPSI IAIN, MAKALAH TENTANG KELUARGA SAKINAH, ARTI KELUARGA SEKINAH, PENGERTIAN KELUARGA SAKINAH, KELUARGA SAKINAH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI, 


Dalam membangun sebuah keluarga tidak serta merta mudah dijalani, setiap hari akan selalu disertai dengan keluhan antara suami dan istri. Hal ini tidak bisa dilepas karena suami istri punya peran masing-masing dalam membangun sebuah keluarga. Keluarga sakinah yang dibangun suami istri akan menjurus ke arah baik dan buruk jika tidak diikuti dengan sabar. Maka dari itu, sebelum semua hancur berantakan ada baiknya suami istri memperhatikan cobaan-cobaan yang akan dihadapi dalam membangun sebuah keluarga sakinah.

1. Masalah Peran

Banyak pasangan yang tidak mendiskusikan bahkan menganggap remeh tentang peran mereka dalam kehidupan rumah tangga dan pernikahan. Mereka tak mengetahui bahwa peran dalam rumah tangga bisa menjadi masalah besar sampai akhirnya terjadi konflik. Berasumsi bahwa pasangan akan mengurus semua hal tersebut hanya akan membuat masalah menjadi lebih besar di kemudian hari.[1]

2. Masalah Peraturan

Setiap pasangan akan menciptakan aturan keluarga dengan membawa latar belakang masing-masing. Tak jarang ada beberapa nilai yang bertolak belakang di antara keduanya. Hal itu seringkali menjadi perseteruan. Nilai mana yang akan dipakai dalam sebuah rumah tangga dapat menjadi bahan pertengkaran. Sebaiknya bicarakan hal ini dengan baik. Setiap nilai pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Ajak suami atau istri untuk membuat daftar kekurangan dan kelebihan masing-masing nilai.[2]

3. Masalah Keuangan

Uang merupakan penyebab pertikaian terbesar dalam rumah tangga. Membahas proritas keuangan dan membuat perencanaan dapat bantu mengurangi masalah ini. Pikirkan mengenai anggaran tiap bulannya, tabungan, tunjangan kesehatan, investasi untuk pendidikan anak serta cara menghadapi pasangan ketika ia ingin membeli sesuatu yang tidak bisa disetujui.[3]

4. Masalah Kebutuhan Biologis

Setelah uang, masalah yang paling umum lainnya adalah kebutuhan biologis. Bagi pasangan yang baru menikah, masa-masa bulan madu terlewatkan dengan begitu cepat dan membuat pasangan harus menghadapi tekanan dari kehidupan sehari-hari yang dapat menganggu hasrat berhubungan intim. Oleh karena itu, bersikap terbuka dan mendiskusikan mengenai apa yang diinginkan.[4]

5. Masalah Anak

Sebagian besar pasangan biasanya telah membicarakan mengenai keinginan punya anak atau tidak sebelum mereka menikah. Namun, apakah benar-benar tahu bahwa pasangan suami istri benar-benar menginginkan hal itu? Berapa banyak anak yang akan dimiliki? Berapa lama waktu untuk menunda kehamilan? Apakah pasangan harus mengorbankan karir untuk membesarkan anak? Ingat, masalah anak tak hanya terletak pada ingin atau tidaknya dan pasangan memiliki keturunan.[5]

6. Masalah Kebiasaan

Sebelum menikah, sebagian orang merasa sudah saling memahami kebaikan dan keburukan masing-masing. Karena setelah menikah, bisa saja menemukan banyak hal baru dari pasangan. Kebiasaan pasangan ini bisa jadi membuat sangat sebal dan ingin mengomelinya. Misalnya saja bagaimana suami atau istri begitu sering menaruh pakaian kotor sembarangan, menaruh botol minuman yang sudah kosong di dalam kulkas, dan lain-lain[6]

Dengan memperhatikan keenam faktor tersebut maka sebuah keluarga akan menuju sakinah. Keenam masalah tersebut kerap dialami oleh banyak pasangan suami istri sehingga tidak mampu mempertahankan rumah tangga mereka. Masalah-masalah akan mudah diselesaikan jika dipahami akar permasalahan dan keluarga akan tetap bahagia.

KLASIFIKASI RUMAH TANGGA SAKINAH

Berdasarkan hasil telaah dari beragam kisah di buku Catatan Hati Seorang Istri, membangun keluarga sakinah tidak dibangun dengan mudah, butuh pengorbanan, kesanggupan dan kesabaran antara suami dan istri. Membangun keluarga sakinah pun harus benar-benar dijalani sesuai dengan anjuran agama, maka dari itu setiap pasangan suami istri harus paham kriteria keluarga sakinah tersebut. Sebelum mengetahui kriteria keluarga sakinah terlebih dahulu harus terdapat kematangan emosional demi terbentuknya keharmonisan rumah tangga. Adapun ciri kematangan tersebut:

1. Kasih sayang, yaitu sikap kasih sayang mendalam yang diwujudkan secara wajar.

2. Emosi yang terkendali, yaitu individu dapat mengatur perasaan-perasaannya terhadap keluarga dan terhadap pasangan. Tidak mudah berbuat hal yang menyakiti perasaan, misalnya marah, cemburu buta, dan ingin merubah pribadi pasangannya.

3. Emosi terbuka-lapang, yaitu individu dapat menerima kritik dan saran dari pasangannya sehubungan dengan kelemahan dan perbuatannya, demi pengembangan diri dan puasan pasangan.

4. Emosi terarah, yaitu individu dengan kendali emosinya sehingga tenang, dapat mengarahkan ketidakpuasan dan konflik-konflik yang konstruktif dan kreatif.[7]

Sedangkan menurut Basri untuk meraih keharmonisan rumah tangga suami dan istri perlu memiliki sifat-sifat ideal dan menerapkannya dalam rumah tangga. Di antara sifat-sifat tersebut adalah:

1. Persyaratan fisik biologis yang sehat-bugar. Hal ini penting karena; untuk menjalankan tugasnya keduanya memerlukan tubuh atau anggota badan yang berfungsi baik dan sehat. Seperti berkomunikasi, bekerja, kehidupan seksualitas, daya tarik, dan sebagainya. Jika mereka memiliki tubuh dan fisik yang sehat terutama otak maka keluarga akan terbantu dengan sisi kreatif dari otak. Tubuh merupakan dasar untuk hidup.

2. Psikis-rohaniah yang utuh. Kondisi psikis-rohaniah yang utuh sangat diperlukan dalam menunjang kemampuan seseorang dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam rumah tangga.dengan mental yang sehat akan mampu mengendalikan emosi yang kadang tergoncang karena berbagai macam alasan dan situasi. Taraf kepribadian dan rohani yang utuh dan teguh sangat diperlukan, karena dalam perjalanannya godaan dan cobaan datang secara silih berganti, baik dalam moral kesusilaan, keadilan, kejujuran, tanggung jawab sosial dan keagamaan. Mental yang sehat dapat menyebabkan seseorang mampu menghadapi kenyataan sebagaimana adanya dan akan berusaha meraih kebahagiaan hidup tanpa merugikan orang lain, ia akan mampu beradaptasi dengan efektif dan wajar. Bermacam-macam aspek kepribadian dan unsur akhlak budi pekertinya akan utuh dan teguh serta menjaga taraf keluhuran dan kehormatannya. Psikis-rohaniah yang utuh dapat mambuat kedua pasangan memelihara daya tarik yang membuat mereka betah dan bahagia dalam rumah tangganya.

3. Kondisi sosial dan ekonomi yang cukup memadai untuk memenuhi hidup rumah tangga. Hal ini dapat berupa semangat dan etos kerja yang baik dalam memenuhi nafkah, kreatifitas dan semangat untuk mengusahakannya, sehingga keluarga akan terpenuhi kebutuhannya.[8]

Berbeda dengan Basri, Zakiah Daradjat menjelaskan beberapa persyaratan dalam mencapai keluarga sakinah, adapun syarat-syarat tersebut adalah:

1. Saling mengerti antar suami isteri, yaitu;

a. Mengerti latar belakang pribadinya; yaitu mengetahui secara mendalam sebab akibat kepribadian (baik sifat dan tingkah lakunya) pasangan.

b. Mengerti diri sendiri; memahami diri sendiri masa lalu kita, kelebihan dan kekurangan kita, dan tidak menilai orang berdasarkan diri sendiri.[9]

2. Saling menerima. Terimalah apa adanya pribadinya, tugas, jabatan dan sebagainya jika perlu diubah janganlah paksakan, namun doronglah dia agar terdorong merubahnya sendiri. Karena itu;

a. Terimalah dia apa adanya karena menerima apa adanya dapat menghilangkan ketegangan dalam keluarga.
Terimalah hobi dan kesenangannya asalkan tidak bertentangan dengan norma dan tidak merusak keluarga.
Terimalah keluarganya.[10]

3. Saling menghargai. Penghargaan sesungguhnya adalah sikap jiwa terhadap yang lain. Ia akan memantul dengan sendirinya pada semua aspek kehidupan, baik gerak wajah maupun perilaku. Perlu diketahui bahwa setiap orang perlu dihargai. Maka menghargai keluarga adalah hal yang sangat penting dan harus ditunjukkan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Adapun cara menghargai dalam keluarga adalah;
Menghargai perkataan dan perasaannya. Yaitu; menghargai seseorang yang berbicara dengan sikap yang pantas hingga ia selesai, menghadapi setiap komunikasi dengan penuh perhatian positif dan kewajaran, mendengarkan keluhan mereka.
Menghargai bakat dan keinginannya sepanjang tidak bertentangan dengan norma.
Menghargai keluarganya.[11]

4. Saling mempercayai. Rasa percaya antara suami istri harus dibina dan dilestarikan hingga ke hal yang terkecil terutama yang berhubungan dengan akhlak, maupun segala segi kehidupan. Diperlukan diskusi tetap dan terbuka agar tidak ada lagi masalah yang disembunyikan. Untuk menjamin rasa saling percaya hendaknya memperhatikan;
Percaya akan pribadinya. Hal ini ditunjukkan secara wajar dalam sikap ucapan, dan tindakan.
Percaya akan kemampuannya, baik dalam mengatur perekonomian keluarga, mengendalikan rumah tangga, mendidik anak, maupun dalam hubungannya dengan orang luar dan masyarakat.[12]

5. Saling mencintai. Syarat ini merupakan tonggak utama dalam menjalankan kehidupan keluarga. Cinta bukanlah kejaiban yang kebetulan datang dan hilang namun ia adalah usaha untuk menyatukan dua manusia. Adapun syarat untuk pempertalikan dengan cinta adalah;
Lemah lembut dalam berbicara.
Menunjukkan perhatian kepada pasangan, terhadap pribadinya maupun keluarganya.
Bijakna dalam pergaulan.
Menjauhi sikap egois
Tidak mudah tersinggung.
Menentramkan batin sendiri. Karena takkan bisa menentramkan batin seseorang apabila batinnya sendiri tidak tentram, orang disekitarnya pun tidak akan nyaman. Saling terbuka dan membicarakan hal dengan pasangan adalah kebutuhan yang dapat menentramkan masalah. Peran agama dan spiritual pun sangat menentukan. Dengannya kemuliyaan hati tercermin dalam tingkah laku yang lebih baik dan menarik. Oleh sebab itu orang yang tentram batinnya akan menyenangkan dan menarik bagi orang lain.
Tunjukkan rasa cinta. Hal ini dapat melalui tindakan, ucapan maupun sikap terhadap pasangan.[13]

Selain itu, terdapat beberapa aspek penting dalam membangun sebuah keluarga sakinah. Aspek-aspek ini merupakan faktor yang menentukan sebuah keluarga menjadi sakinah. Kriteria keluarga sakinah tersebut adalah:[14]

1. Menciptakan kehidupan agama atau spiritualitas dalam keluarga. Karena dalam agama terdapat nilai-nilai moral atau etika kehidupan. Landasan utama agama dalam kehidupan terutama rumah tangga adalah kasih sayang. Penelitian mengatakan keluarga yang tidak religius, komitmen agamanya rendah, atau yang tidak mempunyai komitmen agama sama sekali beresiko empat kali tidak berbahagia.

2. Terdapat waktu bersama keluarga. Sesibuk apapun keluarga tersebut hendaknya para anggota harus menyediakan waktu untuk keluarga atau suasana kebersamaan dengan unsur-unsur keluarga sebagai usaha pemeliharaan hubungan.

3. Dalam interaksi segitiga, keluarga menciptakan hubungan yang baik antara anggotanya. Komunikasi yang baik dan dua arah, suasana demokratis dalam keluarga harus dijaga agar tidak terjadi kesenjangan diantara anggota keluarga.

4. Saling harga-menghargai dalam interaksi ayah, ibu, dan anak. Hal ini dilakukan melalui ucapan, tindakan, dan sikap yang tertanam dalam anggota keluarga.

5. Keluarga sebagai unit terkecil harus erat dan kuat, jangan longgar, dan jangan rapuh. Mereka bukan hanya dekat dimata namun juga harus dekat dihati. Hubungan silaturrahmi berdasarkan kasih sayang haruslah dibina dalam keluarga.

6. Jika mengalami krisis dan benturan-benturan, maka prioritas utamanya adalah keutuhan keluarga.

Jika aspek diatas telah terpenuhi dan berfungsi dengan baik berdasarkan pada tuntunan nilai-nilai spiritual agama maka keharmonisan rumah tangga akan mudah diraih mencapai sakinah.

Keluarga sakinah tidaklah dapat diraih tanpa kekompakan keluarga. Adapun menurut Derek dan Powel untuk menuju kekompakan tersebut dapat diraih dengan 8 prinsip, yaitu:[15]

1. Berdamai dengan masa lalu, yaitu berusaha mengidentifikasi masa lalu yang mempengaruhi cara pandang kita dalam menjalani kehidupan keluarga. Selesaikan masalah yang teridentifikasi, dan temukan hal positif. Lakukan perubahan perilaku yang merupakan dampak dari masa lalu. Dengarkan dengan baik suara yang datang sebagai pesan masa lalu, dan hapus semua kenangan buruk. Kaji kembali pendekatan sebagai orang tua, dan jangan malu-malu untuk bercerita tentang masa lalu dengan keluarga untuk pelajaran bagi mereka.

2. Berdamailah dengan pasangan, yaitu mengidentifikasi hal-hal yang dapat mempengaruhi kualitas hubungan akibat perbedaan yang dimiliki. Galilah perbedaan itu dan komunikasikanlah sehingga mendapat solusi. Jagalah cara menyampaikan dan menerima kritik, dan mintalah bantuan ahli bila memang diperlukan.

3. Ciptakan komunikasi dua arah, yaitu cobalah untuk memahami perbedaan model komunikasi masing-masing, dan memperbaiki cara komunikasi yang destruktif. Mengembangkan cara komunikasi yang lebih efektif dalam keluarga. Nyatakan hal yang ingin disampaikan dengan efektif dan baik, dan ciptakan suasana dan pola komunikasi yang efektif bagi anggota keluarga.

4. Akrabilah lingkungan terdekat, yaitu semua yang berhubungan dengan kita seperti teman dekat, tetangga, kerabat, komunitas, sekolah anak, pemuka agama, lingkungan kerja, dan sebagainya. Banyak alasan untuk menerapkan keakraban dengan mereka. Selain sebagai teman berbagi, mungkin mereka dapat membantu menginspirasi, dan memberi dukungan untuk kita dalam mejalani kehidupan keluarga, begitu pula sebaliknya.

5. Arahkan perilaku anak, yaitu terapkan disiplin yang positif dengan cara berkomunikasi dengan anak tentang sasaran dan tujuan bersama maupun tujuan pribadi. Setelah terjadi komunikasi dan pengertian mengenai harapan atau sasaran tadi maka orang tua hendaknya memberikan dukungan dan pujian pada perilaku yang positif atau mendukung sasaran tadi, walaupun tidak sesempurna pada awalnya, tekankan saja pujian positif ini. Memberikan teguran pada perilaku yang telah keluar dari sasaran atau harapan yang disepakati sebelumnya, teguran ini hendaknya mengena pada perilaku khusus dan berjalan singkat, hindari hukuman fisik. Libatkan semua anggota keluarga sebagai “tim” dalam pembentukan dan penjagaannya. Adakan komunikasi dan diskusi dengan tim secara efektif. Dan mintalah pendapat ahli bila diperlukan, adakan refleksi diri, dan instropeksi untuk mengevaluasi, serta mendapatkan cara yang tepat memperlakukan anak.

6. Memelihara hubungan persaudaraan, yakni menerima perbedaan diantara anggota keluarga dan menganggap persaingan yang terjadi akibat perbedaan tadi adalah sesuatu yang normal. Memanfaatkan area persaingan tadi menjadi area tim yang saling membantu dan meneguhkan satu sama lain Membanding-bandingkan anak bukanlah hal yang tepat karena akan menimbulkan jurang permusuhan. Adakan waktu khusus untuk keluarga, baik melakukan hal barsama, minat bersama, dan sebagainya, adakan keseimbangan baik hubungan, komunikasi, maupun penanganan konflik. Sediakan waktu untuk masing-masing, dan dengarkan mereka. hindari pertengkaran. buat persaingan yang positif dengan menekankan potensi masing-masing, hargai usaha bukan hasil, jangan berat sebelah. Persaingan positif adalah berlomba untuk melakukan hal terbaik dan maksimal dari mereka. Jadi bukan untuk membanding-bandingkan kakak adik, kompetensi kakak adik untuk meraih poin dari ayah. Namun lebih menekankan usaha maksimal untuk menjadi individu yang mandiri, menjadi diri sendiri, berbuat hal positif dan yang terbaik. Misalnya untuk hari kebersihan rumah, bila adik membersihkan halaman depan dengan ayah, maka kakak membersihkan rumah dengan ibu.

7. Mengatasi pengaruh sebaya. Orang tua dituntut bekerja sebagai tim untuk mengontrol perilaku anak. Tanamkan dan bimbing ia dengan kasih sayang, nilai, dan dan sikap positif. Bimbing ia untuk menjalin hubungan positif, adakan komunikasi yang hangat untuk membahas hubungan mereka dengan orang lain, membahas hal yang berpengaruh buruk untuk mereka dengan kejelasan dan bagai mana hal yang tepat mengatasinya. Jangan biarkan anda dianggap kuno, biarkan anda menyesuaikan diri tanpa kehilangan kontrol positif, sehingga dapat menjadi contoh positif oleh anak bagaimana menghadapi perubahan mode yang tepat.

8. Luangkan waktu untuk spiritualitas dan kegembiraan. Meluangkan waktu untuk spiritualitas dan kegembiraan akan menghilangkan kehampaan dan kekosongan yang mengganggu, dan juga akan membimbing kita dalam menghadapi persoalan dan menghadapi masa-masa yang sulit. Penanaman spiritulaitas untuk anak dapat membuat anak menjadi manusia yang memiliki jiwa dan emosi yang sehat.

Maka, keluarga sakinah yang diinginkan akan terjalin jika sebuah keluarga benar-benar paham akan maksud dari prinsip-prinsip di atas.

DOWNLOAD JUGA RPP KURIKULUM 2013 DAN SILABUS KURIKULUM 2013
FIKIH
QURAN HADITS
SEJARAH
BAHASA INDONESIA
BAHASA INGGRIS
BAHASA ARAB
SKI
FISIKA
KIMIA
BIOLOGI
MATEMATIKA
SOSIOLOGI
GEOGRAFI
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)
EKONOMI
PKN
IPA TERPADU
IPS TERPADU
SENI BUDAYA

Postingan populer dari blog ini

RPP Akidah Akhlak MTs Kurikulum 2013 Kelas VIII Lengkap dan Rapi

RPP Akidah Akhlak MTs Kurikulum 2013 Kelas VII

RPP DAN SILABUS SKI MTs VII LENGKAP SIAP PAKAI