CONTOH BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN SKRIPSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM STAI IAIN UIN


CONTOH BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN SKRIPSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM STAI, CONTOH BAB IV SKRIPSI STAI, CONTOH BAB IV SKRIPSI IAIN, CONTOH BAB IV SKRIPSI UIN


Kompetensi merupakan kemampuan yang harus dimilki guru dalam suatu pembelajaran, mulai dari membuat persiapan pembelajaran seperti Silabus, Prota, Prosem, RPP, dan sebagainya. Mengelola atau menguasai kelas, menguasai materi ajar, menyampaikan materi, mengarahkan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mengevaluasi serta menganalisis hasil evaluasi yuang dilaksanakan.”
Dari beberapa kemampuan di atas, maka menjadi sasaran penulis di sini hanya pada faktor evaluasi hasil pembelajaran khususnya yang dilaksanakan oleh guru fiqih di MAN. Menyangkut dengan evaluasi pembelajaran fiqih di MAN, penulis menemukan bahwa guru fiqih di sana sudah memiliki persiapan evaluasi yang telah disiapkan sebelum evaluasi ini dilaksanakan. Artinya guru fiqih itu sudah melakukan perencanaan atau penyusunan soal tes yang akan diberikan pada siswa yang memperhatikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Dan menentukan hasil-hasil belajar yang akan di ukur dengan tes dimaksud. Sehingga dengan tes yang dilaksanakan bisa memberi hasil sesuai dengan yang diharapkan dari evaluasi yang dilaksanakan. Dalam hal itu, Ibu Kartini mengutarakan bahwa “beliau sudah membuat persiapan evaluasi itu untuk masing-masing pokok bahasan materi ajar dalam persiapan perangkat pembelajaran,hanya saja setelah pelaksanaan pembelajaran, beliau memeriksa ulang terhadap soal-soal yang telah disusun itu, dengan pertimbangan apakah yang telah ada itu sudah tepat sasaran sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, atau tentang tingkat kesukaran dan mudahnya masing-masing item soal, termasuk dengan bahasa yang digunakan itu mudah atau tidak dipahami siswa.”
Dalam pernyataan di atas,dapat kita pahami bahwa sudah usaha atau upaya perancang tes yang dilakukan guru fiqih MAN sebelum pelaksanaan evaluasi. Artinya, evaluasi yang dilaksanakan itu tidak sekadar alasan, tetapi dilakukan dengan berbagai pertimbangan, sehingga evaluasi (tes) yang dilaksanakan dapat bermakna, baik bagi guru (sebagai pelaksaan atau evaluator) atau bagi siswa yang dievaluasi.
Dalam pelaksanaan penyusunan soal tes (rancangan tes) guru atau evaluator juga perlu memperhatikan terhadap luas atau sempitnya kandungan dari pembahasan setiap pokok bahasan materi ajar. Sebab soal tes yang diubuat itu harus dapat mewakili dari setiap materi yang diajarkan. Seperti penjelasan ibu Kartini berikut ini “dalam membuat soal-soal tes atau alat evaluasi, guru harus memperhatikan cakupan dari kandungan materi ajar itu apakah memiliki kandungan yang luas atau sempit. Jika kandungannya sempit cukup mengambil beberapa soal saja sebagai perwakilannya, demikian juga halnya dengan cakupan yang luas, sehingga setiap materi yang di ajarkan itu terevaluasi secara keseluruhan.”
Dari tuturan ibu Kartini di atas, dapat dipahami bahwa dalam perancangan yang dilakukan pada pembelajaran fiqih, di MAN ikut memperhatikan pada luas atau sempitnya kandungan materi ajar, sehingga dalam pelaksanaan perancangan evaluasi yang dibuat terwakili dari masing-masing pokok bahasan atau meteri ajar yang tidak di evaluasi oleh guru fiqih.
Selanjutnya dalam perancang tes, evaluator perlu memperhatikan tingkat kesukaran atau kemudahan dari masing-masing item tes yang disusun. Artinya, tidak semua item tes itu memiliki tingkat kesukaran yang sama, atau tingkat kemudahan yang sama. Berikut paparan ibu Kartini “dalam merancang tes ada beberapa tingkatan soal yaitu: ada soal yang mudah, ada soal yang sedang, dan ada soal yang sukar(sulit).” Demikian juga dengan bentuk tes, ada tes dalam bentuk lisan, tulisan, dan praktek (demontrasi). Beraneka macam bentuk ini dimaksutkan adalah untuk dapat mengetahui tingkat keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran yang telah dijalankan.
Lebih lanjut ibu Kartini menjelaskan bahwa: “penentuan bentuk tes yang digunakan sangat ditentukan oleh tujuan tes yang dilaksanakan. Misalnya tes yang dimaksud hanya untuk mengukur kognitif saja, atau efektif saja, psikomotoriknya, atau lebih dari satu aspek. Maka bentuk dan alat tes yang disusun  harus mengarah pada pencapaian tujuan yang dimaksud”.
Untuk mencapai tujuan yang dimaksud dari evaluasi yang dijalankan, maka ada beberapa langkah yang ditempuh oleh guru fiqih di MAN dalam merancang tes, yaitu pertama, memperhatikan materi ajar yang sudah disampaikan, kedua mempedomani standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD) dan indikator yang ada dalam perangkap pembelajaran yang telah disiapkan sehingga alat evaluasi yang dibuat itu dapat mencapai sasaran yang diharapkan.
Dari hasil wawancara di atas dapat dipahami bahwa perancangan tes yang dilakukan oleh guru fiqih sudah dapat dikatakan baik, karena sudah mengikuti langkah-langkah perancangan tes sebagaimana yang telah penulis utarakan pada bab teoritis. Namun demikian juga belum sempurna, karena masih ada langkah-langkah perancangan yang belum digunakan yaitu penggunaan tabel spesipikasi. Disebabkan ibu Kartini belum memahami seperti ungkapan beliau berikut “Saya belum tahu tentang tabel spesipikasi karena saya belum pernah menggunakannya.”
Perancangan tes di MAN, khususnya guru fiqih tidak mengalami kesulitan. Sebab guru sudah memahami bagaimana membuat perancangan tes yang baik, mudah, atau praktik untuk dilaksanakan serta pengukur tingkat kemampuan siswa. Sesuai dengan penjelasan guru fiqihnya: “saya tidak mengalami kesulitan dalam membuat perancangan tes dalam pembelajaran fiqih bagi siswa, karena dalam membuat tes, mempedomani beberapa beberapa langkah yang telah saya sebutkan sebelumnya.” Ini berarti di MAN, guru fiqih dalam membuat perancangan tes tidak ada kendala.

Prosedur penilaian merupakan suatu upaya yang dilakukan guru dalam menentukan nilai siswa, bila prosedur dilakukan dengan benar maka nilai siswa akan diperoleh murni sesuai dengan kemampuan siswa masing-masing, untuk itu prosedur penilaian perlu dibuat oleh guru, demikian pula guru fiqih di MAN telah membuat prosedur penilaian. Sebagaimana dijelaskan dari hasil wawancara berikut ini  “Saya sudah membuat prosedur penilaian dengan cara memberi skor nilai pada soal yang sesuai dengan tingkatan kesukaran masing-masing soal, sehingga bila dijumlahkan semua nilai dari soal itu berjumlah seratus.”
Hasil wawancara di atas dapat dipahami bahwa, guru fiqih pada MAN telah membuat prosedur penilaian, untuk memudahkan menentukan nilai siswa baik nilai rata-rata maupun nilai keseluruhan. Sebab dengan adanya prosedur penilaian tersebut guru lebih mudah mengenal siswanya, siapa yang lebih pintar dan siapa yang kurang pintar atau yang pertengahan saja.
Lebih jelas menyangkut dengan prosedur penilaian yang dilakukan guru fiqih di MAN dapat kita simak dari wawancara berikut ini: “dalam melakukan prosedur penilaian kita melihat terlebih dahulu materi ajar dan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, sehingga dalam menyusun soal-soal itu sesuai dengan tujuan yang diinginkan, serta dapat memudahkan bagi siswa untuk memahami dan menjawab soal-soal yang ada. Kedua, menentukan alat penilaian apakah dalam bentuk tes atau non tes, ini disesuaikan dengan tujuan  pembelajaran yang ada, artinya disesuaikan lagi dengan jenis tingkah laku yang mana mau di ukur dari tujuan pengajaran, ketiga menggunakan hasil penilaian sesuai dengan penilaian yang dibuat, baik untuk mendeskripsikan kemampuan siswa, perbaikan pengajaran, bimbingan belajar dan sebagai laporan pertanggung jawaban oleh pelaku pendidikan.”
Ungkapan wawancara guru fiqih diatas, menunjukkan bahwa guru fiqih di MAN sudah menggunakan beberapa langkah sebagai prosedur penilaian yang dilaksanakan pada evaluasi pembelajaran fiqih.
Selanjutnya dalam melakukan prosedur penilaian guru harus memahami bagaimana prosedur yang baik dan mudah untuk dipahami oleh siswa, sebagai mana prosedur yang telah dilakukan oleh guru fiqih pada MAN, bahwa prosedur yang dilakukan denganm cara melihat, menseleksikan terhadap soal-soal yang telah dibuat guru, gunanya mudah atau tidaknya dilakukan. Maka dengan cara demikian prosedur yang dilakukan dapat memberi hasil yang baik terhadap siswa. Sebagaimana wawancar menjelaskan bahwa: “prosedur penilaian yang dilakukan mudah pelaksanaannya, dalam artian setiap satuan pembelajaran diadakan posttes untuk diambil sebagian nilai harian, dan dengan sendiri siswa mudah manjawab ulangan tersebut.”
Dari hasil wawancara diatas dapat dipahami bahwa,prosedur penilaian yang dilakukan di MAN baik. Karena dalam melakukan prosedur tersebut, guru fiqih memperhatikan beberapa cara dalam melakukan  prosedur itu, sehingga siswa bisa bisa mencapai target yang baik.”
Dalam melakukan prosedur penilaian guru fiqih pada MAN, tidak semua tingkatan itu sama, ada yang mudah, sedang, dan sukar. Hal itu tergantung pada tingkatan kemampuan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Sebagaimana ibu Kartini menjelaskan bahwa: “Mudah atau tidak prosedur yang diikuti oleh siswa sangat tergantung pada kemampuan siswa itu sendiri,karena jika siswa tidak pernah masuks  lokal, maka tes  tersebut tidak akan mudah  baginya dan sebaliknya bagi siswa yang aktif belajar masuk lokal,maka bagi mereka sangat mudah.”
Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa, prosedur yang dilakukan di MAN masih sederhana, belum tuntas, karena tingkat pencapaiannya masih tergantung pada kemampuan siswa.
Pengetahuan tentang prosedur penilaian dapat mengetahui manfaat dan fungsinya dalam proses evaluasi akan memungkinkan kita memperoleh gambaran yang cukup jelas tentang sistematik pekerjaan evaluasi pada umumnya. Untuk itu ibu Kartini menjelaskan bahwa: “prosedur penilaian berfungsi bagi siswa dengan prosedur yang didapatkan secara bertahap, dan dapat bermanfaat untuk mengetahui tin gkatan soal tersebut, karena dalam prosedur itu terdapat tiga kategori, mudah, sedang, dan sukar. Dari semua itu siswa dapat mencapai tingkatan tertentu.”
Wawancara di atas menunjukkan bahwa prosedur penilaian dapat berfungsi bagi siswa bila prosedur itu berjalan dengan cara bertahap, sebab dengan adanya prosedur tersebut siswa dapat memahami tingkat pencapaiannya baik soal itu mudah, sedang, dan sukar.
Dalam melakukan penilaian perlu adanya prosedur yang relevan agar penilaian yang dilakukan dapat bekerja dengan tepat dan benar, adapun prosedur penilaian dalam pembelajaran fiqih pada MAN, dapat dilihat dari hasil wawancara berikut ini yaitu: “prosedur penilaian yang dilakukan dalam pelajaran fiqih pada MAN, pertama melihat dan memahami materi yang diajarkan, dan kedua membuat soal harus sesuai pencapaiannya.”
Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa, prosedur penilaian dalam pembelajaran di MAN ada dua, pertama melihat materi yang diajarkan, dan membuat soal sesuai pencapaiannya, kedua memudahkan nguru dan siswa dalam proses penilaian.
Mengenai dengan kompetensi guru fiqih pada MAN sudah baik karena guru fiqih dapat menyelesaikan tugasnya dalam melakukan prosedur penilaian secara baik dan benar, bahkan memahami tentang pelaksanaan prosedur tersebut. Sebagaimana wawancara berikut ini menjelaskan bahwa “kompetensi guru fiqih di MAN baik-baik saja tida terlalu menyulitkan, dan berjalan sesuai dengan kemampuannya”
Wawancara di atas dapat dipahami bahwa, kompetensi guru fiqih pada  MAN masih tergolong pertengahan, karena kompotensinya masih berjalan sesuai dengan kemampuannya, dalam artian kompetensinya belum meningkat kepada katagori profesional.
Dalam melaksanakan hasil evaluasi pembelajaran fiqih di MAN perlu adanya prinsip dan prosedur, yang penulis temukan dilapangan bahwa MAN nampaknya belum sempurna dalam menjalankan prinsip dan prosedur hasil evaluasi sesuai pernyataan .Wawancara berikut ini menjelaskan, “prinsip dan prosedur yang pernah dilakukan yaitu dengan mempertegaskan tujuan pembelajaran, agar siswa dapat memahami tujuan pembelajaran tersebut.”
Hasil wawancara di atas dapat dipahami bahwa, prinsip dan prosedur yang dipokuskan guru dalam pelaksanaan hasil evaluasi pembelajaran yaitu dititik beratkan kepada pemahaman tujuan pembelajaran terhadap siswa, dengan demikian dapat mencapai hasil yang diharapkan.


Guru fiqih harus mempunyai kemampuan dalam melakukan penskoran terhadap nilai siswa, karena tanpa melakukan penskoran dan menganalisis hasil belajar guru tidak bisa menentukan nilai hasil belajar yang sesungguhnya. Sebagaimana wawancara berikut menjelaskan “guru perlu melakukan penskoran dan menganalisis hasil belajar, sehingga hasil belajar yang dicapai siswa dapat diketahui dengan jelas.” Di samping itu, dalam penskoran dan analisis perlu melakukan teknik yang benar. Sebagaimana wawancara berikut menjelaskan “teknik penskoran dan analisis yaitu menggunakan teknik secara mudah, sedang dan sukar, dan penskoran itu tergantung pada soal tersebut, apabila jumlah soal 50, tes uraian 10, essay 40. Kemudian jumlah nilai choose dengan essay 100, kemudian pada essay dan choose tergantung pada mudah tidaknya soal tersebut.”
Hasil wawancara di atas dapat dipahami, guru fiqih MAN dalam melakukan penskoran dan analisis, dengan memperhatikan tiga teknik yaitu secara mudah, pertengan dan sukar. Dalam artian memberikan skor atau analisis tergantung pada mudah tidaknya soal yang diberikan, jika soalnya mudah skor yang diberikan kecil dan jika soal itu sukar maka skor yang diberikan lebih tinggi.
Selanjutnya kemampuan guru fiqih pada MAN dalam melakukan penskoran dan analisis hasil belajar. Dapat diketahui sebagaimana penjelasan wawancara berikut “kemampuan dalam melakukan penskoran dan analisis hasil belajar yaitu dalam katagori kognitif, efektif dan psikomotorik, masih tergolong belum sempurna.” Dikarenakan guru fiqih pada MAN telah melakukan penskoran hanya mengambil teknik penskoran saja, dan masih ada teknik yang lain yang belum dilakukan oleh guru terssebut sebagai mana penulis utarakan pada bab sebelumnya, seperti teknik dari segi fungsi diractor.
Selanjutnya dalam melakukan penskoran dan analisis hasil belajar, guru fiqih pada MAN, tidak dilakukan sembarangan saja, akan tetapi harus menggunakan suatu rumus, sehingga dapat memberikan hasil penilaian yang tepat. 

Dengan menggunakan rumus tersebut di atas, guru fiqih MAN menjelaskan bahwa “pelaksanaan rumus tersebut adalah mudah, karena dengan menggunakan rumus tersebut dapat mencapai hasil yang baik dan benar.” Selanjutnya penskoran dan analisis hasil belajar yang dilakukan saat ini di MAN dapat dikatakan baik. Sebagaimana penjelasan wawancara berikut bahwa “dalam penskoran dan analisis hasil belajar saat ini sudah ada peningkatan, dikarenakan setiap guru memberikan pertanyaan sesuai dengan materi yang telah deberikan kepada siswa, sehingga siswa tidak mengalami kesulitan didalam menjawab pertanyaan yang diberikan, dan sesuai dengan hasil yang diharapkan.” Kemudian cara penskoran dan hasil belajar “dilakukan dengan cara menggunakan penskoran pada tes uraian.” Dalam melakukan penskoran dan analisis hasil belajar, “ada dua bentuk soal yang diberikan guru yaitu dalam bentuk choose dan essay.
Dari beberapa hasil wawancara di atas dapat dipahami, dalam melakukan penskoran dan analsis hasil belajar menggunakan rumus tersebut di atas, penskoran dan analisis hasil belajar saat ini tergolong baik, cara penskoran dilakukan pada tes uraian dan ada dua bentuk soal yang dbuat oleh guru yaitu bentuk soal choose dan essay. Semua hal tersebut dapat dilakukan dengan baik dan mencapai hasil yang diharapkan. Selanjutnya setelah melakukan penskoran dan analisis hasil belajar, kemudian dilakukan tindak lanjut oleh guru “apabila siswa mendapat nilai dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) maka diadakan remedial, dengan tujuan untuk memperbaiki kembali nilai buruk yang diperoleh siswa, oleh karena itu tindak lanjut ini dilakukan bila diperlukan.
Belajar fiqih pada MAN saat ini dapat dikatakan tuntas dilakukan. Sebagaimana wawancara berikut menjelaskan “belajar fiqih harus tuntas dilakukan, karena pelajaran fiqih merupakan salah satu pelajaran yang terpenting, sebab di dalam pelajaran tersebut banyak menuntaskan tentang hukum-hukum Islam yang telah diwajibkan kepada kaum muslim.”
Hasil wawancara di atas dapat dipahami bahwa, pelajaran fiqih yang diajarkan oleh guru pada MAN telah tuntas dilakukan, karena materi yang terkandung dalam pembelajaran tersebut sangat penting terutama yang menyangkut tentang hukum-hukum yang mengatur kehidupan manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Dari hasil observasi/pengamatan dilapangan dapat penulis sajikan bahwa kemampuan guru fiqih dalam melakukan penskoran dan menganalisis hasil belajar belum bisa dikatakan sempurna, ketika guru memberikan penskoran kepada siswa,hanya menggunakan satu rumus saja.akan tetapi masih banyak rumus yang lain yang harus digunakan, sebagaimana disebutkan dalam bab sebelumnya.

Pembuktian Hipotesis
Selanjutnya penulis akan membuktikan hipotesis yang telah  penulis kemukakan pada bab pendahuluan di atas, guna untuk mengetahui hasil penelitian di lapangan tentang kompetensi guru fiqih dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran.
Adapun hipoteis yang penulis kemukakan adalah guru fiqih pada MAN sudah memiliki kompetensi yang baik dalam merancang tes, prosedur penilaian, penskoran dan analisis hasil belajar. Setelah mengadakan penelitian di lapangan melalui wawancara maka hipotesis tersebut benar dan dapat diterima, karena sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan di lapangan. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil:
Wawancara nomor 8 halaman 49, nomor 9 halaman 50, nomor 10 halaman 50, nomor 11 halaman 51, nomor 12 halaman 51, nomor 13 halaman 52, nomor 14 halaman 52, nomor 15 halaman 53, nomor 16 halaman 54, nomor 17 halaman 54, nomor 18 halaman 54, nomor 19 halaman 55, nomor 20 halaman 55, nomor 21 halaman 56, nomor 22 halaman 56, nomor 23 halaman 56, nomor 24 halaman 57, nomor 25 halaman 57, nomor 26 halaman 58, nomor 27, 28, 29, 30, 31 halaman 58 dan nomor 32 halaman 59.
Sedangkan menyangkut dengan analisis hasil belajar, tidak bisa dibuktikan karena guru fiqih di MAN tidak melakukan analisis berarti dalam hal itu, kebenarannya ditolak. Sesuai dengan hasil observasi/pengamatan dilapangan,dapat penulis simpulkan bahwa,
Kompetensi guru  fiqih dalam merancang tes pada MAN sudah dikatakan baik, karena sudah mengikuti langkah-langkah perancang tes,antara lain:
Menentukan / merumuskan tujuan tes
Mengidentifikasikan hasil-hasil belajar yang akan di ukur dengan tes itu
Menentukan / menandai hasil belajar yang spesifik, yang merupakan tingkah laku yang dapat di amati dan sesuai dengan TIK.
Merinci mata pelajaran / bahan pelajaran yang akan di ukur dengan tes itu.
Kompetensi guru fiqih dalam prosedur penilaian di MAN sudah dapat dikatakan baik,karena prosedur-prosedur yang dilakukan oleh guru fiqih tersebut sesuai dengan hasil yang diharapkan dan dapat bermanfaat dan berfungsi bagi guru dan siswa.
Adapun dalam penskoran hasil belajar sudah menggunakan sebuah rumus yang mudah, sehingga bisa menentukan nilai yang baik.

DOWNLOAD JUGA RPP KURIKULUM 2013 DAN SILABUS KURIKULUM 2013
SKI
PKN

Postingan populer dari blog ini

RPP Akidah Akhlak MTs Kurikulum 2013 Kelas VIII Lengkap dan Rapi

RPP DAN SILABUS SKI MTs VII LENGKAP SIAP PAKAI

RPP Akidah Akhlak MTs Kurikulum 2013 Kelas VII