PENGERTIAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


PENGERTIAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN, PENGERTIAN BELAJAR, PENGERTIAN PEMBELAJARAN, PENGERTIAN HASIL BELAJAR, TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN, TEORI BELAJAR, TEORI PEMBELAJARAN.

Belajar merupakan perubahan tingkah laku. Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar bersifat progresif dan akumulatif, mengarah kepada kesmpurnaan, misalnya dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, baik mencakup aspek pengetahuan (cognitive domain), aspek afektif (afektive domain) maupun aspek psikomotorik (psychomotoric domain). (Mulyasa, 2003).


Slameto (1998:2) mengemukakan belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.

Selanjutnya UNESCO dalam Soedijarto (2004 : 10-18) mencanangkan empat pilar belajar. Keempat pilar belajar tersebut adalah sebagai berikut:

LEARNING TO KNOW ADALAH suatu proses pembelajaran yang memungkinkan siswa menguasai tekhnik menemukan pengetahuan dan bukan semata-mata hanya memperoleh pengetahuan.

LEARNING TO DO ADALAH pembelajaran untuk mencapai kemampuan untuk melaksanakan controlling, monitoring, maintening, designing, organizing. Belajar dengan melakukan sesuatu dalam potensi yang kongkret tidak hanya terbatas pada kemampuan mekanistis, melainkan juga meliputi kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain serta mengelola dan mengatasi konflik.

LEARNING TO LIVE TOGETHER ADALAH membekali kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi, saling pengertia dan tanpa prasangka.


LEARNING TO BE ADALAH keberhasilan pembelajaran yang untuk mencapai tingkatan ini diperlukan dukungan keberhasilan dari pilar pertama, kedua dan ketiga. Tiga pilar tersebut ditujukan bagi lahirnya siswa yang mampu mencari informasi dan menemukan ilmu pengetahua yang mampu memecahkan masalah, bekerjasama, bertenggang rasa, dan toleransi terhadap perbedaan. Bila ketiganya behasil dengan memuaskan akan menumbuhkan percaya diri pada siswa sehingga menjadi manusia yang mampu mengenal dirinya, berkepribadian mantap dan mandiri, memiliki kemantapan emosional dan intelektual, yang dapat mengendalikan dirinya dengan konsisten, yang disebut emotional intelegence (kecerdasan emosi).

Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia ingin menerima pengalaman belajar atau yang optimal yang dapat dicapai dari kegiatan belajar di sekolah untuk pelajaran. Hasil belajar seperti yang dijelaskan oleh Poerwadarminta (1993 : 768) adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan). Pengertian hasil belajar menurut pendapat Mochtar Buchari (1986 : 94) adalah hasil yang dicapai atau ditonjolkan oleh anak sebagai hasil belajarnya, baik berupa angka atau huruf serta tindakannya yang mencerminkan hasil belajar yang dicapai masing-masing anak dalam periode tertentu.

Nasution (1972:45) berpendapat bahwa hasil belajar adalah kemampuan siswa berdasarkan hasil dari pengalaman atau pelajaran setelah mengikuti program belajar secara periodik. Dengan selesainya proses belajar mengajar pada umumnya dilanjutkan dengan adanya suatu evaluasi. Dimana evaluasi ini mengandung maksud untuk mengetahui kemajuan belajar atau penguasaan siswa atau terhadap materi yang diberikan oleh guru.

Dari hasil evaluasi ini akan dapat diketahui hasil belajar siswa yang biasanya dinyatakan dalam bentuk nilai atau angka. Dengan demikian hasil belajar merupakan suatu nilai yang menunjukkan hasil belajar dari aktifitas yang berlangsung dalam interaksi aktif sebagai perubahan dalam pengetahuan, pemahaman keterampilan dan nilai sikap menurut kemampuan anak dalam perubahan baru. Dalam proses belajar mengajar siswa merupakan masalah utama karena siswa yang diharapkan dapat menyerap seluruh materi pelajaran yang diprogramkan di dalam kurikulum.

Dengan demikian hasil belajar merupakan segala sesuatu yang di dapat siswa setelah melalui proses pembelajaran. Hasil belajar tidak hanya nilai yang tercantum dalam raport melainkan juga semua yang terlihat pada diri siswa termasuk perubahan tingkah laku menjadi lebih baik dari sebelumnya. Siswa yang mengalami perubahan tingkah laku maka capaianya terhadap pembelajaran adalah baik, sedangkan siswa yang perilaku tidak berubah maka capaiannya bisa dianggap tidak diamalkan walau nilai raport tinggi.

Pendekatan Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
PENDEKATAN PEMBELAJARAN
Menurut Seels and Richey (1994 : 32) pendekatan pembelajaran adalah spesifikasi untuk menyeleksi dan mengurutkan peristiwa atau langkah-langkah dalam sebuah pembelajaran. Snelbecker (1982 : 115) mengemukakan pendekatan pembelajaran adalah suatu cara yang dilakukan oleh guru untuk melaksanakan suatu proses pembelajaran dengan memahami perbedaan karakteristik dan kemampuan siswa, sehingga diharapkan guru dapat membantu kesulitan belajar siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.

Proses pembelajaran yang melibatkan guru dan siswa harus diusahakan dalam rangka untuk mencapai tujuan pembelajaran, artinya guru harus mampu memahami bahwa di antara siswa terdapat perbedaan-perbedaan karakteristik. Hal itu karena siswa berasal dari kondisi ekonomi dan kemampuan orang tua yang berbeda, sehingga dalam mengikuti proses pembelajaran terdapat perbedaan pula.

Dengan memahami perbedaan karakteristik siswa, dalam proses pembelajaran, oleh guru dapat menentukan dan memilih pendekatan pembelajaran yang sesuai, guru dapat memberikan suatu perlakuan, dan penilaian, serta keputusan yang tepat kepada siswa, sehingga siswa merasa dirinya dihargai dan diperhatikan dalam proses pembelajaran tersebut. Proses pembelajaran merupakan sistem yang terdiri atas beberapa komponen seperti siswa, guru, dan pendekatan, serta materi pembelajaran yang saling berinteraksi datam mencapai tujuan. Dalam menyajikan materi pembelajaran guru perlu menentukan dan memilih pendekatan pembelajaran yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pendekatan pembelajaran yang tepat adalah pendekatan yang mampu membangkitkan motivasi belajar siswa.

Menurut Muhibbin Syah (1995 : 190) pendekatan pembelajaran adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Semakin baik pendekatan pembelajaran maka semakin efektif pula pencapaian tujuan. Untuk menetapkan lebih dahulu apakah suatu pendekatan pembelajaran disebut baik, diperlukan ketentuan yang bersumber dari beberapa faktor. Adapun faktor utama yang menentukan adalah tujuan yang akan dicapai. Pendekatan pembelajaran di dalam kelas selain faktor tujuan, juga faktor murid, faktor situasi, dan faktor guru ikut menentukan efektif tidaknya suatu metode pembelajaran.

Menurut Wasty Soemanto (1998 : 102) pendekatan pembelajaran merupakan salah satu cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan komunikasi dengan siswa pada saat berlangsungnya pembelajaran. Oleh karena itu, peranan pendekatan pembelajaran sebagai alat untuk menciptakan proses pembelajaran. Dengan pendekatan pembelajaran diharapkan terciptalah interaksi edukatif. Dalam interaksi ini guru harus dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa, serta menggunakan pendekatan pembelajaran yang bervariasi.

PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
Contextual Teaching and Learning (CTL) atau pendekatan kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. (Wina Sanjaya, 2006: 109).

Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) mempunyai tiga faktor penting dalam rangka menjalankan pembelajaran dengan baik. Ketiga faktor tersebut adalah:

Menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks pendekatan kontekstual tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.

Pendekatan kontekstual mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan bermakna secara fungsional akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.

Pendekatan kontekstual mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya pendekatan kontekstual bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam konteks pendekatan kontekstual bukan untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan akan tetapi sebagai bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata.

Ketiga faktor tersebut mempunyai peranan penting dalam melibatkan siswa aktif dan menghadiran dunia nyata dalam diri siswa selam pembelajaran berlangsung. Selain faktor-faktor pendukung terlaksanakanya pendekatan kontektual dengan efektif, untuk mencapai kompetensi yang sama dengan menggunakan pendekatan kontekstual guru setidaknya melakukan langkah-langkah pembelajaran dengan benar. Adapun langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan kontektual adalah sebagai berikut:

PENDAHULUAN
Guru menjelaskan kompetensi yang hams dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari.
Guru menjelaskan prosedur pembelajaran kontekstual.
Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa.
Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi, misalnya kelompok 1 dan 2 mengobservasi kegiatan A, dan kelompok 3 dan 4 mengobservasi kegiatan B.
Melalui observasi siswa ditugaskan untuk mencatat berbagai hal yang ditemukan pada masing-masing kegiatan tersebut.
Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh setiap siswa.

KEGIATAN INTI
Siswa melakukan observasi sesuai dengan pembagian tugas kelompok.
Siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan sesuai dengan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya.
Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing.
Siswa melaporkan hasil diskusi.
Setiap kelompok mynjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain.

PENUTUP
Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah demokrasi sesuai dengan indikator hasil belajar yang harus dicapai.
Guru menugaskan siswa untuk membuat rangkuman tentang pengalaman belajar mereka dengan materi demokrasi.
Dengan demikian pembelajaran yang berlangsung dengan pendekatan kontekstual adalah untuk mendapatkan kemampuan pemahaman konsep, siswa harus mengalami langsung dalam kehidupan nyata di masyarakat. Ruang belajar bukanlah tempat untuk mencatat atau menerima informasi dari guru, akan tetapi kelas digunakan untuk saling berbagi ilmu yang didapat diluar ruang belajar.


KERANGKA BERPIKIR
Pendekatan kontektual merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang menghadirkan dunia nyata pada siswa. Pendekatan kontektual mengharuskan siswa mengalami sendiri materi yang diajarkan, kemudian baru memahami dengan benar materi tersebut.

Pendekatan kontektual diharapkan dapat diterapkan pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, hal ini karena akan menjadikan siswa memahami dengan benar keadaan yang sebenarnya tidak hanya terfokus pada materi di buku ajar dan apa yang disampaikan guru selama proses belajar mengajar. Selain itu materi Budaya Demokrasi Menuju Masyarakat Madani memang mengharapkan siswa untuk langsung mengalami sendiri agar bisa membedakan permasalahan yang terjadi di masyarakat.

HIPOTESIS TINDAKAN
Berdasarkan landasan teori dan kerangka berpikir, maka hipotesis tindakan dirumuskan sebagai berikut: dengan penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) pada materi Budaya Demokrasi Menuju Masyarakat Madani dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS Sekolah SMA.

DOWNLOAD JUGA RPP KURIKULUM 2013 DAN SILABUS KURIKULUM 2013
SKI
PKN


Postingan populer dari blog ini

RPP Akidah Akhlak MTs Kurikulum 2013 Kelas VIII Lengkap dan Rapi

RPP DAN SILABUS SKI MTs VII LENGKAP SIAP PAKAI

RPP Akidah Akhlak MTs Kurikulum 2013 Kelas VII