PENGERTIAN PENDIDIKAN ISLAM LENGKAP DAN DISESUAIKAN DENGAN PENDAPAT AHLI


PENGERTIAN PENDIDIKAN ISLAM LENGKAP DAN DISESUAIKAN DENGAN PENDAPAT AHLI, SKRIPSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM, PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TEORI, TEORI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM.


Pendidikan Islam dapat diartikan sebagai bimbingan secara sadar yang dilakukan oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani, rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama menurut ketentuan dalam Islam.[1] Berdasarkan pengertian tersebut Pendidikan Islam mempunyai dua arti, secara etimologi Pendidikan Islam berasal dari bahasa Arab, yaitu "Tarbiyah Islamiyah". Pendidikan Islam mempunyai arti sebagai berikut :
Bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
Bimbingan yang diberikan kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.[2]

Pendidikan Islam memiliki sumber dari nilai kebenaran dan kekuatan yang dapat mengantarkan pada aktivitas yang dicita-citakan. Karena dasar adalah fondasi/landasan berpijak agar tegaknya sesuatu tersebut menjadi kokoh. Dasar Pendidikan Agama Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Al-Qur’an merupakan sumber kebenaran dalam Islam, yang mana kebenarannya tidak dapat diragukan lagi. Sedangkan Hadits berdasarkan dari Rasulullah SAW., dijadikan landasan Pendidikan Agama Islam berupa perkataan, perbuatan atau pengaturan Beliau.[3] 
Artinya: Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (Q.S.Al-Ahzab:71).
Ayat tersebut tegas sekali mengatakan, bahwa apabila manusia telah mengatur seluruh aspek kehidupannya (termasuk pendidikannya) dengan kitab Allah SWT. dan sunnah Rasul-Nya, maka akan bahagialah hidupnya di dunia dan akhirat.
Sunnah dalam arti etimologi adalah prilaku kehidupan (sirah) yang baik dan buruk, atau suatu jalan yang ditempuh. Sedang kalau menurut terminologi  sunnah adalah segala sesuatu yang dinukil dari Nabi SAW. baik berupa perkataan, perbuatan, penetapan atau selain itu.[4]
Ahmad Marimba mengemukakan bahwa Pendidikan Islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar pendidikan terhadap pengembangan jasmani dan rohani menuju terbentuknya kepribadiannya yang utama (insan kamil)[5]. Sedangkan Ahmad tafsir mendefinisikan pendidikan Islam sebagai bimbingan yang diberi oleh seseorang (peserta didik) agar ia berkembang secara dengan ajaran islam[6]. Dari batasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi Islam.
Agama Islam adalah agama universal yang mengajarkan kepada umat manusia mengenai berbagai aspek kehidupan baik kehidupan yang sifatnya duniawi maupun yang sifatnya ukhrawi. Salah satu ajaran Islam adalah mewajibkan kepada umatnya untuk melaksanakan pendidikan, karena dengan pendidikan manusia dapat memperoleh bekal kehidupan yang baik dan terarah
Selama ini buku-buku ilmu pendidikan Islam telah memperkenalkan paling kurang tiga kata yang berhubungan dengan pendidikan Islam yaitu, al-tarbiyah, al-ta’lim dan al ta’dib. Jika ditelusuri ayat-ayat al-Quran dan  matan as-Sunah secara mendalam dan komperhensif sesungguhnya selain tiga kata tersebut masih terdapat kata-kata lain tersebut, yaitu al-tazkiyah, al-muwa’idzah, al-tafaqqu, al-tilawah, al-tahzib, al-irsyad, al-tafakkur, al-ta’aqqul dan al-tadabbur. Deskripsi selengkapnya terhadap kata-kata tersebut dapat dikemukakan sebagi berikut:
Al-Tarbiyah
Kata al-tarbiyah berasal dari “kata rabba atau rabaa di dalam al-Quran disebutkan lebih dari delapan ratus kali, dan sebagian besar atau bahkan seluruhnya dengan Allah, yaitu terkadang dihubungkan dengan alam jagat raya (bumi, langit, bulan, bintang, matahari, tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, laut dan sebagainya), dengan manusia seperti pada kata rabbuna(Tuhan kami), rabbuhu (Tuhannya), rabbuhum (Tuhan mereka semua), rabbiy (Tuhan-ku).”[7] Karena demikian lausnya pengertian al-tarbiyah ini, maka ada sebagian pakar pendidikan, seperti Al-Attas yang tidak sependapat dengan pakar pendidikan lainnya yang menggunakan kata al-tarbiyah dengan arti pendidikan. Menurutnya, kata al-tarbiyah terlalu luas arti dan jangkauannya. Kata tersebut tidak hanya menjangkau manusia melainkan juga menjaga alam jagat raya sebagaimana tersebut. Benda-benda alam selain manusia, menurutnya tidak dapat dididik, karna benda-benda alam selain manusia itu tidak memiliki persyaratan potensial, seperti akal, pancaindera, hati nurani, insting, dan fitrah yang memungkinkan untuk dididik. Yang memiliki potensi-potensial di atas itu hanya manusia. Untuk itu Al-Attas lebih memilih kata al-ta’dib untuk arti pendidikan, dan bukan kata al-tarbiyah.
Al-Ta’lim
Kata ta’lim dihubngkan dengan mengajarkan ilmu kepada seseorang, dan orang yang mengajarkan ilmu tersebut akan mendapatkan pahala dari Tuhan. Kata al-ta’lim dalam arti pengajaran yang merupakan bagian dari pendidikan banyak digunakan untuk kegiatan pendidikan yang bersifat nonformal, sepeti majelis taklim. Kata al-ta’lim dalam pendidikan sesungguhnya merupakan kata yang paling dahulu digunakan daripada kata al-tarbiyah. Kegiatan pendidikan dan pengajaran pertama kali dilakukan oleh Nabi Muhammad di rumah Al-Aqram di Makkah, dapat juga disebut majelis al-ta’lim.[8]
Al-Ta’dib
Kata al-ta’dib berasal dari kata addaba, yuaddibu, ta’diban yang dapat berarti pendidikan, disiplin, peringatan atau hukuman. Kata al-ta’dib berasal dari kata adab yang berarti beradab, bersopan santun, tata krama, adab, budi pekerti, akhlak, moral dan etika. Kata al-ta’dib dalam arti pendidikan sebagaimana disinggung di atas, ialah kata yang dipilih oleh Al-Attas.[9] Dalam hubungan ini ia mengartikan al-ta’dib sebagai pengenalan dan pengakuan yang secara berangssur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tenpat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan kekuatan dan keagungan Tuhan.
Al-Tahdzib
Kata al-tahdzib secara harfiah berarti pendidikan akhlak atau menyucikan diri dari perbuatan akhlak yang buruk, dan berarti pula terdidik atau terpelihara dengan baik, dan berarti pula beradab sopan.[10] Dari berbagai pengertian tersebut, tampak bahwa secara keseluruhan kata al-tahzib terkait dengan perbaikan mental sepiritual, moral dan akhlak, yaitu memperbaiki mental seseorang yang tidak sejalan dengan ajaran atau norma kehidupan menjadi sejalan dengan ajaran atau norma, memperbaiki perilakunya agar menjadi baik dan terhormat, serta memperbaiki akhlak dan budi pekertinya agar manjadi akhlak mulia. Berbagai kegiatan tersebut termasuk dalam bidang kegiatan pendidikan. Itulah sebabnya, kata al-tahzib juga berati pendidikan.
Al-Wa’dz atau Al-Mau’idzah
Al-wa’dz berasal dari “kata wa’aza yang berarti mengajar, kata hati, suara hati, hati nurani, memperingatkan atau mengingatkan, mendesak), dan  memperingatkan.[11] Terdapat 6 inti al-wa’dz atau al-mau’idzah adalah pendidikan dengan cara memberikan penyandaran dan pencerahan batin, agar timbul kesadaran untuk berubah menjadi orang yang baik.
Al-Riyadhah
Dalam pendidikan, kata al-riyadhah diartikan mendidik jiwa anak dengan akhlak mulia. Di dalam Al-Quran maupun as-Sunah kata al-riyadhah secara eksplisit tidak dijumpai, namun inti dan hakikat al-riyadhah dalam arti mendidik atau melatih mental spiritual agar senantiasa mematuhi ajaran Allah amat banyak dijumpai.[12]
Al-Tazkiyah
Al-tazkiyah berasal dari kata zakka, yuzakki, tazkiyatan yang berarti pemurnian, kesucian, pengumuman atau pernyataan, pengesahan atau kesaksian dan catatan yang dapat dipercaya dan dihormati.[13] Dari penjelasan tersebut terlihat, bahwa kata al-tazkiyah ternyata juga digunakan untuk arti pendidikan yang bersifat pembinaan mental spiritual dan akhlak mulia.
Al-Talqin
Kata talqin juga digunakan untuk arti pengajaran. Dari penjelasan tersebut terlihat, bahwa kata al-talqin ternyata digunakan pula untuk arti pendidikan dan pengajaran yang diberlakukan tidak hanya kepada orang yang masih hidup melainkan kepada orang sudah meninggal.[14]
Al-Tadris
Kata al-tadris juga berarti  baqa’ atsaruha wa baqa al-atsar yaqtadli inmihauhu fi nafsihi, yang artinya sesuatu yang pengaruhnya membekas dan sesuatu yang pengaruhnya membekas menghendaki adanya perubahan pada diri seseorang. Intinya kata al-tadris berarti pengajaran, yakni, menyampaikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik yang selanjutnya memberi pengaruh dan menimbulkan perubahan pada dirinya.[15]
Al-Tafaqquh
Kata al-tafaqquh berasal dari kata tafaqqaha yatafaqqohu tafaqquhan yang berarti mengerti dan memahami. Selanjutnya Ar-Raghib al-Asfaniy mengartikan kata tafaqquh sebagain berikut: menghubungkan pengetahuan yang abstrak dengan ilmu yang konkret, sehingga menjadi ilmu yang khusus.[16] Dari kata al-tafaqquh muncul kata al-fiqh yang selanjutnya menjadi sebuah nama bagi ilmu yang mempelajari hukum-hukum syariah yang disandarkan pada dalil-dalil terperinci. Kata al-tafaqquh selanjutnya lebih digunakan untuk menunjukan pada kegiatan pendidikan dan pengajaran ilmu agama Islam.
Al-Irsyad
Kata al-irsyad dapat mengandung arti yang berhubungan dengan pengajaran dan pendidikan yaitu bimbingan, pengarahan, pemberitahuan, nasihat, dan bimbingan sepiritual. Dengan demikian kata al-irsyad layak dipertimbangkan untuk dimasukan dalam arti kata pendidikan dan pengajaran.[17]
Tujuan Pendidikan Islam
Pendidikan Islam memiliki tujuan yang jelas seperti yang terdapat dalam al-Quran. Tujuan pendidikan Islam tersebut dapat dikategorikan dalam dua bagian, keduanya dapat dijabarkan sebagai berikut ini :
Tujuan Sementara
Tujuan sementara merupakan sasaran sementara yang harus dicapai oleh umat Islam yang melaksanakan pendidikan agama. Tujuan sementara yaitu tercapainya berbagai kemampuan seperti kecakapan jasmaniah, pengetahuan membaca, menulis, pegetahuan ilmu-ilmu kemasyarakatan, kesusilaan, keagamaan, kedewasaan jasmani-rohani dan sebagainya.[18] Pendidikan Islam bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan peserta didik tentang ajaran agama Islam.[19]
Sedangkan Athiyah, dalam Abidin Ibnu Rusn menyimpulkan bahwa:
Membantu pembentukan akhlak yang mulia
Mempersiapkan untuk kehidupan dunia akhirat
Membentuk pribadi yang utuh sehat jasmani dan rohani
Menumbuhkan ruh ilmiah, sehingga memungkinkan murid mengkaji ilmu semata untuk ilmu itu sendiri
Menyiapkan murid agar mempunyai profesi tertentu sehingga dapat melaksanakan tugas mulia dengan baik, atau persiapan untuk mencari rizki.[20]

Berbeda dengan Zakiah Daradjat yang menjelaskan tujuan Pendidikan Agama Islam meliputi berbagai aspek kemanusiaan yang meliputi sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan, dan pandangan.[21]
Dari beberapa pendapat di atas tujuan sementara merupakan segala sesuatu yang ingin dicapai oleh umat Islam dalam menjalankan pendidikan baik di keluarga, sekolah dan masyarakat saat masih hidup di dunia.
Tujuan Akhir
Pendidikan Islam itu berlangsung seumur hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini. Ketika masih hidup di dunia, apa yang pernah didapat dari pendidikan Islam menyangkut keimanan, tingkah laku, pemikiran, dan lainnya masih mengalami fluktuasi.
Tujuan akhir adalah meninggalkan alam ini dalam keadaan bertakwa kepada Allah. Meninggal dalam keadaan berserah diri kepada Allah sebagai muslim yang merupakan menjunjung agama-Nya merupakan suatu kenikmatan dunia dan akhirat. Sesungguhnya kematian seperti ini akan mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya di akhirat kelak. Maka, tujuan akhir ini sepatutnya menjadi acuan setiap muslim untuk meraih keridhaan Allah.
Pendidikan bukanlah sekedar pengajaran, yang dapat diartikan sebagai suatu proses transfer ilmu belaka, tetapi lebih sebagai upaya tranformasi nilai-nilai dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya. Dengan demikian pengajaran lebih berorientasi pada pembentukan tukang-tukang atau spesialis yang terkurung dalam spesialisnya yang sempit, dan lebih bersifat teknis.
Berbicara masalah tujuan pendidikan, dalam hal ini pendidikan Islam tentu akan melibatkan banyak referensi dan pengalaman mengabdi dalam dunia pendidikan. Bagian ini juga akan menerangkan sekilas tujuan pendidikan Islam kontemporer yang berkembang saat ini. Allah menciptakan alam ini dengan tujuan yang jelas, dan manusia diciptakan dimuka bumi ini untuk menjadikan khalifah dengan jalan keta’atan kepada-Nya. Untuk mewujudkan tujuan itu Allah memberikan hidayah serta berbagai fasilitas alam semesta. Artinya manusia dapat memanfatkan fasilitas alam ini untuk dijadikan sarana perenungan kebesaran Penciptanya.[22]
Pendidikan yang merupakan sarana untuk memperoleh dan mencapai suatu disiplin ilmu (sains), yang dijalankan hendaklah semata-mata untuk memperoleh banyak kebaikan serta keadilan yang menyentuh seluruh aspek kehidupan yang nyata. Dengan adanya pendidikan menjadikan kehidupan masyarakat lebih berkualitas dan berperadapan tinggi, jauh dari praktik jahiliyah yang telah dihapus jauh-jauh oleh ajaran Nabi Muhammad 15 abad yang silam. Lebih spesifiknya lagi, kutipan diatas menerangkan bahwa setiap individu adalah unsur mikro yang memeliki kebutuhan spiritual (agama) yang mampu menentramkan hati nurani manusia, sebagai puncak ketenagan hidup manusia.[23]
Sedangkan tujuan pendidikan menurut al-Ghazali adalah “keharusan upaya mengarahkan kapada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dengan titik penekanan pada perolehan keutamaan kepada Allah, dan bukan untuk mencari kedudukan yang tinggi atau mendapatkan kemegahan dunia, dan jika tujuan pendidikan diarahkan bukan tujuan keridhaan Allah, maka akan muncul kesesatan dan kemudharatan.”[24]
Dalam filsafat pendidikan Islam, mengenal berbagai prinsip-prinsip yang akan mengantarkan peserta didik untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan dalam kontek keislaman. Langgulung menulis tentang penjabaran ini dalam memajukankan sistem pendidikan menurut paradigmanya tentang konsep sebuah proses pendidikan, proses belajar, fungsi-fungsi pendidikan, tujuan pendidikan, metode pendidikan, alat dan media pendidikan dalam filsafat Islam.[25] Adapun prinsip-prinsip pendidikan yang dimaksud antara lain:
Pendidikan adalah usaha pengembangan dan penumbuhan seluruh aspek kepribadian individu dan mempersiapkan untuk kehidupan yang mulia dan berhasil dalam suatu masyarakat.
Pendidikan dalam arti yang luas dan menyeluruh seperti telah disebutkan, meliputi pendidikan yang disengaja, yang dilakukan dan dibawah pengawasan dan bimbingan lembaga pendidikan yang diciptakan untuk maksud dan tujuan ini juga meliputi pendidikan yang tak disengaja, melalui lembaga-lembaga yang tidak sengaja didirikan untuk pendidikan seperti lembaga-lembaga penerangan. Juga berlaku pada pendidikan yang muncul secara tiba-tiba dan tidak disengaja. Oleh karena itu pendidikan adalah salah satu proses tingkah laku, maka pendidikan memerlukan dinamisme dan kesinambungan dari buaian sampai ke liang lahad.
Pendidikan dalam arti yang luas dan menyeluruh bertemu dan berjalin dengan konsep-konsep dan pengertian banyak proses-proses lain yang bertujuan merubah tingkah laku individu dan kehidupan masyarakat, seperti proses belajar, proses pertumbuhan, proses interaksi dan perolehan pengalaman penyesuaian psikologis sosial, jasmani, sosialis, perbaikan sosial, prubahan sosial dan pengembangan ekonomi sosial.
Pandangan Islam terhadap pendidikan tidaklah berbeda dari pandangan mutakhir, yang memandang pendidikan muslim yang menyeluruh, mengajak kearah keutuhan pengalaman yang menghendaki segala sesuatu di sekolah, diberbagai lingkungan pelajar berinteraksi dengan pendidik. Jadi pendidikan itu bukanlah pelajaran agama atau sekedar nasihat agama, tetapi Islam juga menekankan banyak pengertian yang bernilai pendidikan sangat penting, seperti menganggap pendidikan sebagai proses perbaikan individu, pemulihan manusia, proses penyampaian sianak didik kepada kesempurnaan. Selain itu pendidikan menganggap pengamalan ibadah sebagai jalan terbaik untuk pembentukan dan pemurnian lahir dan batin. Selain itu, mengarahkan bagaimana peserta didik membatasi syahwat dan nafsunya, kepasrahan diri kepada Penciptanya dan sumber kehidupannya.
Jadi dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan upaya yang merubah keadaan semula yang tidak mengetahui apapun, dengan adanya pendidikan akan merubah keadaan yang tidak tahu menjadi tahu, semula tidak bisa dapat menjadi bisa, masyarakat yang berprilaku tidak baik, menjadi masyarakat yang berperadapan tinggi, dan semula manusia tidak mengenal Allah, maka manusia menjadi tahu dan berupaya untuk selalu menjalani aktivitas hidupnya yang dapat membawa dirinya semakin dekat kepada-Nya.
Pendidikan Islam memiliki sumber yang jelas dan tertera dalam aturan yang sebenarnya. Sumber pendidikan Islam tersebut tidak dapat ditawar-menawar dengan sumber lain karena sudah ditetapkan oleh aturan Islam itu sendiri. Adapun kedua sumber tersebut adalah al-Quran dan as-Sunnah.
Al-Quran
Tidak diragukan lagi bahwa al-Quran adalah sumber rujukan utama yang paling berpengaruh dalam sistem pendidikan Islam. Al-Quran merupakan mu’jizat teragung yang diterima oleh Nabi Muhammad, menjadi penunjuk jalan yang telah disempurnakan Allah. Di dalam al-Quran telah terpaparkan secara menyeluruh mulai dari aspek terkecil sampai pada masalah kecangihan teknologi yang berkembang saat ini, tergangtung dengan semangat mempelajari dan perenungan ayat-ayat Allah yang terkandung dalamnya, dan sejauh mana kemauan manusia melaksanakan kandungannya.[26]
As-Sunnah
Begitu juga halnya dengan As-sunnah (hadits), merupakan sumber rujukan kedua setelah al-Quran. Di dalamnya terdapat penjelasan-penjelasan yang belum ditemukan dalam al-Quran. Sunnah merupakan kapasitas manusiawi yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad kepada seluruh umat yang setia pengikut ajarannya.[27]
Artinya: “Dari Abu Ruqayah Tamim Ad Daari ra., sesungguhnya Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: agama adalah nasehat, kami berkata: Kepada siapa?  Beliau bersabda: Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan kepada pemimpin kaum muslimin dan rakyatnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

DOWNLOAD JUGA RPP KURIKULUM 2013 DAN SILABUS KURIKULUM 2013
SKI
PKN





[1]Mu’arif, Liberalisasi Pendidikan, (Yogyakarta : Pinus Book Publisher, 2008), h. 48.
[2]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), h. 27.

[3]Muhammad Isnaini, Pendidikan Islam Dalam Konteks Pasar dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Jurnal Pembangunan Manusia, (Palembang: IAIN Raden Fatah, 2010), h. 2.
[4]Muhammad Isnaini, Pendidikan…, h. 4.  
[5]Ahmat D Marimba, Pengantar filsafat pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma’arif, 1989), h. 19.

[6]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikann Dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), cet ke-1, h. 32.

[7]Abdul Mujid dan Jusuf Mudzhakir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Hidakrya Agung, 2001), h. 20.


[8]Abdul Mujid dan Jusuf Mudzhakir, Ilmuh. 21.
[9]Abdul Mujid dan Jusuf Mudzhakir, Ilmu…h. 22
[10]Abdul Mujid dan Jusuf Mudzhakir, Ilmuh.23.

[11]Abdul Mujid dan Jusuf Mudzhakir, Ilmu…, h.24
[12]Abdul Mujid dan Jusuf Mudzhakir, Ilmu…, h. 25.
[13]Abdul Mujid dan Jusuf Mudzhakir, Ilmu…, h. 26.

[14]Abdul Mujid dan Jusuf Mudzhakir, Ilmu…, h. 27.  
[15]Abdul Mujid dan Jusuf Mudzhakir, Ilmu…, h. 27.
[16]Abdul Mujid dan Jusuf Mudzhakir, Ilmu, h. 28.

[17]Abdul Mujid dan Jusuf Mudzhakir, Ilmu…, h. 29.
[18]Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung : Pustaka setia,1998), h. 30.
[19]Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2002), h. 78.

[20]Abidin Rusn, Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan, (Jakarta : Pustaka Pelajar, 1998), h. 134.
[21]Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Angkasa, 1996), h. 30.

[22]Heri Nour Aly dan Munzier, Watak Pendidikan Islam, (Jakarta: Friska Agung Insani, 2003), h. 21.

[23]Ramayulis dan Nizar, Samsul, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta: Quantum Teching, 2005), h. 13.
[24]Ramayulis dan Nizar, Samsul, Ensiklopedi…., h. 34.
[25]Hasan Langgulung , Asas-Asas Pendidikan Islam, (Jakarta: Penerbit Pustaka Al-Husnah,  1997), h. 44.

[26]Abdul Hasan Ali Nadwi, Islam Dan Dunia, Ali bahasa: Adang Affandi, (Bandung: Percetakan Angkasa, 2008), h. 10.
[27]Abdul Hasan Ali Nadwi, Islam…, h. 12.

Postingan populer dari blog ini

RPP Akidah Akhlak MTs Kurikulum 2013 Kelas VIII Lengkap dan Rapi

RPP DAN SILABUS SKI MTs VII LENGKAP SIAP PAKAI

RPP Akidah Akhlak MTs Kurikulum 2013 Kelas VII