PENGERTIAN DAN TUJUAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BAGI ANAK PRASEKOLAH


PENGERTIAN DAN TUJUAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BAGI ANAK PRASEKOLAH, SKRIPSI METODE CERITA, METODE CERITA UNTUK ANAK PAUD, METODE CERITA UNTUK ANAK SD
PENGERTIAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Sebelum penulis mengemukakan tentang pengertian Pendidikan Agama Islam, terlebih dahulu didefinisikan kata pendidikan. “Pendidikan dalam bahasa Inggris disebut dengan “education” yang berarti pengembangan atau bimbingan, sedangkan dalam bahasa Arab sering diterjemahkan dengan “tarbiyah”. Kata tarbiyah lebih luas konotasinya, yaitu mengandung arti memelihara, membesarkan dan mendidik, sekaligus mengandung makna mengajar (hadanah).”

Ramayulis mendefinisikan pendidikan sebagai “bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengajar terhadap anak didik oleh orang dewasa agar menjadi dewasa. Bimbingan diberikan secara sadar dan berlangsung secara berkelanjutan sampai anak didik memahami pentingnya arti pendidikan.”[1]

Dengan demikian pendidikan berarti interaksi dalam diri individu dengan masyarakat sekitarnya baik dilihat dari segi kecerdasan atau kemampuan, minat maupun pengalaman. Mendidik adalah usaha atau tindakan yang dilakukan secara sadar dengan bantuan alat pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan, sehingga terbentuk manusia yang bertanggung jawab.

Berdasarkan definisi-definisi tentang pendidikan yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah proses yang terdiri dari usaha yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak didik, baik berupa bimbingan, pengarahan, pembinaan, maupun latihan. Tujuan yang ingin dicapai adalah membawa anak didik ke arah terbentuknya kepribadian yang utama.

Menurut Zakiyah Daradjat, “Pendidikan Agama Islam adalah usaha terhadap anak didik agar kelak dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup. Pendidikan yang diberikan adalah segala sesuatu yang didasari pada norma-norma agama.”[2] Pendidikan akan mengubah setiap kepribadian anak didik menjadi lebih berakhlak mulia. Kepribadian adalah “ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya; keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir.”[3]

Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah diyakini secara menyeluruh, menjadikan ajaran agama Islam sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan, kesejahteraan hidup dunia dan akhirat.


TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM BAGI ANAK PRASEKOLAH Pendidikan yang baik adalah “pendidikan yang menyeluruh dengan metode alamiah, melalui jalan interaksi dengan kehidupan. Pendidikan melalui interaksi sosial adalah metode pendidikan terbaru guna mewujudkan pribadi yang sempurna dan sehat. Karena potensi dirinya sendiri, artinya harus berdasarkan pada potensi yang dimiliki, demikian juga dengan pendidikan melalui pengawasan, pengarahan dan penjagaan yang baik.”[4]

Pada hakikatnya tujuan pendidikan tidak bisa lepas dari pendapat tersebut di atas. Pendidikan yang dimulai semenjak lahir memiliki tujuan yang sama yaitu untuk memperbaharui segala sesuatu yang belum benar. Anak usia prasekolah pun demikian halnya, memiliki tujuan yang sama yaitu untuk bisa menjadikan mereka sebagai pribadi yang mengenal agama kelak setelah dewasa. Tidak hanya paham akan tata cara namun semua aturan dan ketentuan yang berlaku dalam ajaran agama Islam.

Jamaludin mengemukakan, pada dasarnya tujuan Pendidikan Islam dapat dibagi menjadi dua, di antaranya adalah:

Tujuan keagamaan; maksudnya ialah beramal untuk akhirat sehingga ia menemui Tuhannya telah memurnikan hak-hak Allah yang telah diwajibkan atasnya.

Tujuan alamiah yang bersifat duniawi; yaitu apa yang diungkapkan oleh pendidikan modern dengan tujuan kemanfaatan atau persiapan untuk hidup. Tujuan Pendidikan Islam yang bersifat paling utama ialah beribadah kepada Allahdan kesempurnaan insani yang tujuannya kebahagiaan dunia akhirat.[5]

Pendidikan Islam penting untuk anak usia prasekolah, mengingat saat itulah perkembangan mengenal baik buruk dimulai. Dasar pendidikan Islam yang benar akan membawa pengaruh besar kepada anak hingga usianya menginjak dewasa, sehingga peran guru sangat erat kaitannya dengan pemahaman seorang anak akan pengetahuan agama.

PENGERTIAN DAN BATAS USIA ANAK PRASEKOLAH
Seringkali apa yang dimaksudkan dengan pengertian anak usia dini (prasekolah) sangat simpang siur. Masing-masing orang mempunyai pengertian yang tidak sama sehingga akan mengaburkan arah pembicaraan.[6] Batasan yang dipergunakan oleh The National Association for The Education of Young Children (NAEYC), dan para ahli pada umumnya adalah sebagai berikut:

Yang dimaksud dengan “Early Childhood” (anak masa awal) adalah anak yang sejak lahir sampai dengan usia delapan tahun. Hal tersebut merupakan pengertian yang baku dipergunakan oleh NAEYC. Batasan ini seringkali dipergunakan untuk anak yang belum mencapai usia sekolah dan masyarakat menggunakannya bagi berbagai tipe prasekolah (preschool).

Early Childhood Setting (tatanan anak masa awal) menunjukkan pelayanan untuk anak sejak lahir sampai dengan delapan tahun, di suatu pusat penyelenggaraan, rumah, atau institusi, sekolah dasar dan program rekreasi yang menggunakan sebagian waktu atau penuh waktu.

Early Childhood Education (pendidikan awal masa anak) terdiri dari pelayanan yang diberikan dalam tatanan awal masa anak. Biasanya oleh para pendidik anak usia dini (youl children) digunakan istilah early childhood (anak masa awal) dan early childhood education (pendidikan anak masa awal) dianggap sama atau satu sinonim.[7]

Istilah lain yang sering digunakan untuk diskusi tentang pendidikan anak usia dini adalah “nursey school” atau “preschool” (prasekolah). Anak usia dini juga dapat didefinisikan sebagai berikut:

Kelas bayi yang menerima anak usia dibawah empat tahun. Kelas ini menyaratkan bahwa ibu anak adalah salah seorang pengurus atau karyawan di tempat tersebut.

Kelas nursey atau prasekolah, yang menerima anak berusia antara empat tahun atau lima tahun. Pendidikan anak kelas ini di bawah pengawasan seorang pendidik yang menyelesaikan pendidikan di sekolah tersebut atau pengawai dari kedutaan yang berbahasa Inggris.

Taman kanak-kanak atau kindergarten, yang menerima anak berusia antara lima sampai enam tahun. Peran lembaga ini memberi persiapan secara matang dengan memberi bekal pengalaman terkait dengan pengetahuan dan ketrampilan praktis dan dapat dirasakan indra.[8]

Menurut Fachruddin Hasballah masa prasekolah dilihat dalam dua masa yaitu masa usia dini dan masa kanak-kanak. Pertumbuhan usia dini sangat mempengaruhi kehidupannya kelak, terutama dalam mempersiapkan dan mengembangkan pertumbuhan otak.[9] Anak usia dini dapat juga dibagi dalam dua masa, yaitu masa menyusui (0; 0-2;0) tahun dan masa pra pemain kecil (2;0-5;0).[10] Masa menyusui merupakan masa pemberian air susu ibu (ASI) semaksimal mungkin karena ASI mengandung gizi cukup yang dibutuhkan anak. Sebagaimana firman Allah SWT. dalam surat Luqman ayat 14:

Artinya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik), kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Perilaku yang tampak dalam masa menyusui ini, terlihat pada insting keibuan, artinya kegiatan ibu secara ikhlas dalam menanam rasa kasih sayang, menanam rasa gembira keluarga, penyesuaian/pengenalan luar dan bahasa ibu, serta pengontrolan air besar dan kecil anak.[11]

Kemudian, pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya adalah pada pra pemain kecil (2;0-5;0) tahun. “Perilaku pada masa ini yang berkembang dan terlihat dalam kehidupannya pada perlakuan sebagai boneka hidup yang menggembirakan, sikap egosentris dan merusak, sikap ingin mengenal alam sekitar dan bahasa lisan, serta keterkaitan dalam keluarga.”[12] Semua gambaran perilaku dan kegiatan tersebut akan menjadi penyempurnaan dalam membentuk otak anak, dan menjadi dasar pula dalam usaha pengembangan akal secara sempurna.

Rousseau mengembangkan tahap perkembangan seseorang. Menurutnya, perkembangan manusia melalui empat tahap utama, yaitu:

Masa bayi; sejak lahir sampai usia sekitar dua tahun. Pada masa ini, seorang bayi mengenali lingkungannya melalui indra. Yang dapat mereka rasakan hanyalah kesenangan dan rasa sakit. Namun demikian, bayi bersifat aktif, memiliki rasa ingin tahu yang besar, serta dapat belajar dengan cepat. Bayi akan berusaha meraih dan menyentuh semua benda yang ada disekitarnya. Dengan menyentuh benda-benda tersebut, bayi belajar tentang rasa panas, dingin, keras, lembut atau pun ciri-ciri objek lainnya. Bayi juga mulai belajar bahasa dan mengoreksi kesalahannya dalam berbahasa.

Masa anak-anak usia 2-12 tahun. Masa ini ditandai dengan kemampuan untuk mandiri: mulai belajar sendiri, makan sendiri, berbicara serta berlari. Pada masa ini, anak mulai mengembangkan penalaran yang bersifat intuitif karena berhubungan langsung dengan gerakan tubuh dan indera. Misalnya, seorang gadis yang berhasil melemparkan bila maka ia akan menunjukkan pengetahuan intuitif tentang kecepatan dan jarak.

Masa anak-anak akhir; usia 12-15 tahun. Masa ini merupakan transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Selama periode ini, anak-anak memperoleh kekuatan fisik yang luar biasa, mereka mampu mendorong kereta kecil atau kerja seperti orang dewasa masa ini juga ditandai oleh perkembangan kognitif. Contohnya mereka mulai mampu memecahkan masalah-masalah geometris dan sains. Kemampuan kognitif dapat dilatih melalui tugas-tugas yang kongkret dan bermanfaat. Misalnya bercocok tanam, belajar menjadi tukang kayu, atau membuat peta. Sampai dengan tahap ketiga ini, secara alami, anak masih bersifat pre-social. Artinya mereka hanya peduli pada hal-hal yang berhubungan dengan dirinya sendiri dan belum memikirkan hubungan sosial. Mereka lebih tertarik untuk bekerja secara fisik dan belajar dari benda-benda yang ada di alam. Dunia buku dan lingkungan sosial merupakan hal-hal yang asing.

Tahap dewasa; 15 tahun ke atas. Tahap ini ditandai oleh pubertas dan kepedulian terhadap lingkungan sosial. Tanda-tanda lainnya berupa perubahan suasana hati yang sering tiba-tiba, mudah marah tanpa alasan yang jelas, mulai peduli terhadap lawan jenis dan orang lain, mulai merasakan kebutuhan seksual, serta mulai mampu memahami konsep-konsep abstrak dan mengembangkan minat pada sains dan moral.[13]

Setelah kelahiran sampai dengan usia 6 tahun, banyak terjadi perubahan yang luar biasa. Perubahan ini misalnya, sebutan yang pada awalnya adalah bayi kemudian menjadi anak-anak; munculnya refleks-refleks yang merupakan dasar kepekaan terhadap stimulus, munculnya celoteh yang akan berkembang menjadi kemampuan berkomunikasi.[14]

Adapun usia setelah itu (lebih dari 6 tahun) sering disebut sebagai usia sekolah di mana anak sudah berkembang fisiknya sehingga membentuk tubuh yang proporsional, mampu berjalan, meloncak, berlari, mampu memegang pensil dengan baik, mampu berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa verbal, mampu memahami emosi yang dirasakan oleh orang lain berdasarkan bahasa tubuh yang ditunjukkan. Oleh karena itu menurut Wiwien Dinas Pratisti “batasan pengertian anak usia prasekolah adalah 0-6 tahun.”[15]

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian anak prasekolah adalah anak usia dini yang berusia (0 s/d 6 tahun), mulai dari masa pra pemain kecil sampai munculnya refleks-refleks yang merupakan dasar kepekaan terhadap stimulus serta munculnya celoteh yang akan berkembang menjadi kemampuan berkomunikasi.

DOWNLOAD JUGA RPP KURIKULUM 2013 DAN SILABUS KURIKULUM 2013
FIKIH
QURAN HADITS
SEJARAH
BAHASA INDONESIA
BAHASA INGGRIS
BAHASA ARAB
SKI
FISIKA
KIMIA
BIOLOGI
MATEMATIKA
SOSIOLOGI
GEOGRAFI
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)
EKONOMI
PKN
IPA TERPADU
IPS TERPADU
SENI BUDAYA

Postingan populer dari blog ini

RPP Akidah Akhlak MTs Kurikulum 2013 Kelas VIII Lengkap dan Rapi

RPP DAN SILABUS SKI MTs VII LENGKAP SIAP PAKAI

RPP Akidah Akhlak MTs Kurikulum 2013 Kelas VII